Pages

"Bersabda Rasullullah s.a.w.", Berwasiat-lah kamu kepada wanita... "(Muttafa' Alaihi)


Wasiat Terhadap Wanita.




Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, "telah bersabda Rasullullah s.a.w.", Berwasiat-lah kamu kepada wanita dengan wasiat yang baik. Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bahagian atasnya. Oleh kerana itu jika kamu meluruskannya dengan paksa maka ia akan patah, tetapi jika kamu biarkan ia akan tetap bengkok, maka berwasiat-lah kamu terhadap wanita dengan wasiat yang baik. (Muttafa' Alaihi)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, "telah bersabda Rasulullah s.a.w." "Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (isteri), kerana apabila ada perangainya yang ia tidak sukai, maka ia akan menyukai perangainya yang lain". : Atau beliau bersabda: " Ada orang lain yang menyukainya." (H.R. Muslim)

Diriwayatkan dari Amr bin Al Ahwash Al Husyamy r.a. bahawa ia pernah mendengar Rasulullah s.a.w. berkhutbah pada haji wada', setelah baginda memuji Allah s.w.t., Baginda memberi peringatan dan nasihat, kemudian Baginda bersabda, "Ingatlah, berwasiat-lah kamu terhadap para wanita dengan wasiat yang baik. Kerana sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu. Jangan kamu berlaku semena-mena terhadap  mereka, kecuali jika mereka terbukti membuat perlanggaran. Jika mereka membuat perlanggaran, maka janganlah kamu temani tidur mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Bila mereka telah mentaati kamu, maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyakiti mereka. Ingatlah bahawa sesungguhnya kamu mempunyai hak ke atas isteri, demikian pula isterimu memiliki hak atas dirimu. Adapun hak hak kamu atas isteri isterimu; mereka tidak boleh memasukkan orang yang tidak kamu sukai ke dalam kamar peribadi mu, dan mereka tidak mengizinkan orang lain memasuki rumahmu tanpa izin darimu. sedangkan hak hak mereka atas kamu adalah agar kamu memberi pakaian dan makanan yang baik kepada mereka." (H.R Tarmizi )

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, "telah bersabda Rasulullah s.a.w." Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling baik pada isterinya." (H.R. Tarmizi)

Diriwayatkan dari Iyas Bin Abdullah Bin Abu Dzubab r.a. ia berkata, "Telah bersabda Rasulullah s.a.w. " Janganlah kamu memukul kaum wanita." Kemudian datanglah Umar r.a. mengadap Rasulullah s.a.w. lalu berkata, " Para isteri sekarang telah berani kepada para suaminya." Lalu Baginda memberikan keringanan kepada para suami untuk memukul isteri isterinya. Selanjutnya banyak para wanita mendatangani Rasulullah s..a.w. untuk mengadukan perlakuan suaminya, maka Baginda bersabda, " Sungguh telah banyak para wanita yang datang ke rumah Muhammad, untuk mengadukan perlakuan suami suami mereka, maka mereka ( para suami itu) bukanlah orang orang yang terbaik di antara kamu." (H.R. Abu Daud dengan isnad yang shahih)

 Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. bahawasanya Rasulullah s.a..w. pernah bersabda; "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan dunia adalah wanita solehah" (HR Muslim)

 kitab SHAHIH RIYADHUS SHALIHIN karya Imam An Nawawi.

Kemenangan Islam janji Allah SWT.


Janji Allah Ta’ala Tentang Pertolongan Dan Kemenangan





Oleh: Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdul Rahman.

Tsauban, seorang pelayan Rasulullah, berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda,
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ الْأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ الله أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ قَالَ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ يَنْتَزِعُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ قَالَ قُلْنَا وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.
Artinya, ”Rasulullah bersabda, “Akan datang masanya semua bangsa dari berbagai penjuru mengepung kalian, sebagaimana orang-orang mengerumuni hidangan di meja makan.” Tsauban berkata, “Kami pun bertanya, “Apakah karena waktu itu jumlah kami sedikit ya, Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ketika itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian adalah buih, seperti buih di lautan. Rasa segan telah dicabut dari hati musuh-musuh kalian, dan dicampakkan penyakit wahn dalam hati-hati kalian.” Tsauban berkata, “Kamipun bertanya, “Apakah penyakit wahn tersebut?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”(HR. Ahmad)
Sejak runtuhnya khilafah Utsmaniyyah, seolah-olah kekuatan Islam perlahan surut digilas perputaran roda zaman dimana tahta tersebut akhirnya berhasil dikuasai kaum kafir dan para antek-anteknya.
   Peristiwa ini seakan menyurutkan langkah-langkah sebagian besar umat Islam dan akhirnya memilih menegakkan izzah kehidupannya masing-masing. Namun ternyata tidak, terdapat sebagian kecil yang tetap berjuang dan optimis kekhilafahan akan kembali terwujud. Mereka yang termasuk thaifah manshuroh (kelompok yang mendapat kemenangan), senantiasa istiqomah dan bertekad membangkitkan Islam dengan kekuatannya.
   Mereka selalu meyakini bahwa Allah Ta’ala Sang pemilik dien yang haq ini, akan mengerahkan pertolongan-Nya dalam menjaga kemuliaan Islam. Mereka pun menyadari bahwa sekedar berpangku-tangan dan menjadi bagian kelompok qo’idun, maka cita-cita besar dan mulia tersebut akan mungkin mampu diraih. Oleh karena itu, mereka tak hanya berbekal keyakinan semata, namun juga disertai ikhtiar dan ghiroh yang tak pernah padam, terutama dalam jihad fi sabilillah. Mereka amat mencintai Islam, sehingga dalam Islam mereka hidup, berjuang, dan berharap mati dalam kesyahidan. Isy kariman au mut syahidan. Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Orang-orang mukmin yang sebe­narnya yaitu orang-orang yang ber­iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian tidak lagi ada keraguan dalam hatinya tentang keimanannya. Kemudian mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka untuk membela Islam. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.“ (QS. al-Hujurat, 49:15)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, bahwa Rasulullah telah bersabda,
مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ.
Artinya, “Barangsiapa berperang demi menjunjung kalimat Allah setinggi mungkin, maka ia berada pada jalan Allah.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)
Islam yang tegak akan syari’atnya, diciptakan Allah Ta’ala untuk semua makhluk-Nya. Ia merupakan fasilitas dalam meraih kemuliaan serta kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hamba-hamba-Nya yang memiliki kesungguhan beriman kepada-Nya memilih menunda untuk bersenang-senang dan menikmati hingar-bingar dunia. Mereka hidup sewajarnya dengan meneladani Rasulullah dan para sholafush sholih. Sebab Islam diturunkan tidak untuk tujuan keduniaan, melainkan untuk menegakkan kalimatullah dan mencapai keridhoan-Nya. Dengan jihad, Allah Ta’ala hanya ingin memenangkan uluhiyah dan hukmiyah-Nya semata.
Dari ‘Aidz bin ‘Amr dan Al-Muzani ra, bahwa telah bersabda Rasulullah,
الْإِسْلاَمُ يَعْلُوا وَ لاَ يُعْلَى.
Artinya, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengungguli ketinggiannya.” (HR. Ad-Daruquthni)
Mengabaikan syari’at Islam dan menekuni kezhaliman merupakan benih-benih pengundang bencana dan laknat Allah Ta’ala. Untuk itu perlu bersegera membasmi segala pengundang datangnya bencana Allahazza wa jalla. Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Wahai Manusia, bencana apa saja yang menimpa diri kalian, maka bencana itu adalah hasil kerja tangan-tangan kalian. Namun demikian amat banyak kesalahan-kesalahan kalian yang dimaafkan oleh Allah.“ (QS. asy-Syu’ara, 42:30)
Jika umat Islam mau sungguh-sungguh berkomitmen menerapkan semua hal yang disyari’atkan Allah Ta’ala serta bersungguh-sungguh mengamalkannya secara kaaffah, maka kemenangan dan kejayaan Islam insyaa Allah akan segera terwujud nyata. Allah Ta’ala bahkan telah menjanjikan kemenangan bagi hamba-hamba-Nya yang memiliki ketundukkan kepada-Nya,
Artinya, “Wahai kaum mukmin, perangilah kaum kafir yang memerangi kalian. Allah akan menghancurkan kekuatan mental kaum kafir dengan tangan-tangan kalian, menghinakan mereka, memenangkan kalian atas mereka, dan menyenangkan hati kaum yang beriman.“ (QS. at-Taubah, 9:14)

Bentuk-bentuk Kemenangan

Diantara bentuk-bentuk kemenangan yang dimaksud adalah:
  1. Kemenangan dalam hujjah dan bayan.
  2. Menang melawan musuh-musuh Allah.
  3. Mati syahid.
  4. Memperoleh jannah.

- See more at: http://www.arrahmah.com/rubrik/prinsip-prinsip-meraih-kemenangan-dan-pertolongan-allah-dalam-penegakan-syariat.html#sthash.qgF5sr3H.dpuf

Sifat orang yang maqam nya tinggi di hadapan Allah SWT.

"Lalu terangkan lah kepadaku tentang ihsan,"... Pertanyaan Malaikat jibril as kepada Rasulullah Saw..

lalu Baginda Saw bersabda, mahfumnya :"Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya. Sesungguhnya ia melihat engkau".

Kisah ini telah diriwayatkan oleh  Sayyidina Umar ra, seperti yang dinyatakan oleh Imam Muslim dalam kitab nya, (Kitab hadis paling sahih yang pernah di karang).


Islam & iman ditanya dahulu sebelum ihsan, bermakna bahawa kedudukan ihsan itu selepas islam & iman. Ya, jikalau kita teliti dengan akal, fakta yang paling tepat mengenai penganut islam ialah. Mereka mengucap syahadah, termaktub mereka adalah orang islam, di ikuti dengan iman dan perlu kepada sifat Ihsan. & ihsan ini lah ibarat roh & fizikal kita sedang berhadapan dengan yang menciptakan kita.

Ia, nya tidak lah jelas di depan mata, tetapi jelas di sudut hati yang dalam yang disaluti keiman dan ketaqwaan kepada Allah SWT, jelaslah bahawa inilah antara maqam tertinggi disisi Allah SWT.


Mari kita melusuri makna ihsan oleh cendikiawan islam indonesia,

Sebuah amal dikatakan ihsan cukup diniati ikhlas kerana Allah, adapun selebihnya adalah kesempurnaan ihsan, kesempurnaan ihsan meliputi 2 keadaan:

1) Maqom Muraqobah- yaitu senantiasa merasa diawasi & diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktivitinya, kedudukan ini yang lebih tinggi lagi.

2) Maqom Musyahadah- yaitu senantiasa memperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan seluruh aktivitinya dengan sifat-sifat tersebut.

Apabila ihsan disebut selepas islam & iman, sifat ini harus kita praktikan dalam daily life kita. Ya, mungkin sebelum ini kita tidak khsyuk dalam solat lalu kesan nur solat tersebut kurang kita rasai, sebelum ni kita berzikir namun hati kita masih tidak lama tenangnya. Oleh itu jom la kita bersama praktikan sifat ini dalam kehidupan kita dan semoga ia berkekalan abadi di jiwa kita.



Rujukan- Rujukan Kitab Fadhilat Amal,


Rujukan- Rujukan Kitab Fadhilat Amal,
  
Karangan Shaikhul Hadith Hazrat Maulana Muhammad Zakariya Rahmatullah`Alaihi (Syaikhul Hadith Mazahir`Ulum). 

Terjemahan, Lujnah Terjemahan Madrasah Miftahul `Ulum Seri Petaling.

Diterbitkan Era Muslim.Sdn.Bhd

Kitab- kitab rujukan.

  1. Ahkam al-Quran yang dikarang oleh Abu Bakr Ahmad bin cAli Razi al-Jasasi.
  2. cAini Syarah Bukhari oleh Badaruddin Abu Muhammad bin Ahmad cAini.   
  3. al-Kāmil oleh cAeizuddin cAli bin Muhammad Ibn Athir Jazuri.
  4. al-Qaul Badīc Fī Şalāh cAlā Habībī hasil karya Syamsuddin Muhammad al-Sakhāwī.
  5. al-Zawājir oleh Imam Ibn Hajar al-Makkī al-Haithami.
  6. al-Eişābah oleh Imam Hafiz Ibn Hajar al-cAsqalānī al-Syaficī
  7. al-Muwaţa oleh Abu cAbdullah Malik bin Anas bin Malik.
  8. Asād al-Ghābah oleh cAllamah Ibn Athir Jazuri.
  9. Asyhur Masyahīr Islām oleh Rafiq Bāqī al-cAzīm.
  10. al-Syifā oleh Qadhī cIyādh bin Musa al-Husainī.
  11. al-Targhīb wa al-Tarhīb oleh cAbd cAdhim bin cAbd Qawī al-Mundhirī.
  12. al-Ţabaqah oleh Muhammad bin Sacid Katībī al-Waqidī.
  13. cAaw al-Macbud oleh Abu cAbd al-Rahman Syarīf.
  14. Awjaz al-Masālik oleh Maulana Muhammad Zakaria al-Kandahlawi.
  15. Sunan Baihaqi oleh Abu Bakr bin Husain bin cAli al-Baihaqī.
  16. Bayan al-Quran olehMaulana Asyraf cAli Thanwi.
  17. Badzl al-Majhud oleh Maulana Khalīl Ahmad Muhajīr Madānī.
  18. Bukhārī Syarīf oleh Abu cAbdullah Muhammad bin Ismacil.
  19. Dirāyah oleh Hafiz Ibn Hajar cAlaih al-Rahmah.
  20. Dur al-Manthur oleh cAllamah Jalaluddin Suyuti.
  21. Fatāwā Alamghirī oleh Ulama Hindustan, Hazrah Alamghiri.
  22. Fath al-Bari oleh Abu Fadhl Ahmad bin cAli bin Hajar cAsqalānī.
  23. Harzuts  Thamin Fī Mubasyirah Nabi al-Amin oleh Syah Waliyullah Dahlawi.
  24. Hishn Hashin oleh Syamsuddin bin Muhammad al-Jazuri.
  25. Hilyah Aulia oleh Abu Nucaim Ahmad bin cAbdullah Asbahanī.
  26. Hujjatullah al-Balīghah oleh Syah Waliyullah.
  27. Ibn Hibban oleh Muhammad bin Hibban bin Ahmad.
  28. Ihya cUlumuddn oleh Imam alGhazalī.
  29. Iqāmah al-Hujjah oleh Maulana cAbd Hayyi Lakhnawī.
  30. Irwah Thalathah tartib Maulana Zuhri al-Hasan.
  31. Isticāb oleh Hafiz Ibn cabd  Bar Maliki.
  32. Ithaf  Sadah Muttaqin oleh Muhammad bin Muhammad al-Zubaidi.
  33. Jamc al-Fawaid oleh Muhammad bin Muhammad Sulaiman.
  34. Jamal oleh Syeikh Sulaiman al-Jamal.
  35. Jamic al-Shagir oleh cAbd al-Rahman Jalaluddin Suyuti.
  36. Kanz al-cUmmal oleh cAllamah cAli Burhan Puri.
  37. Kaukab al-Durrī oleh Syeikh Zadu Majdah.
  38. Khashaish Kubrā oleh cAllamah Sayuti.
  39. Kitab al-Amwal oleh Imam Abu cAbi al-Qasīm bin Salam.
  40. Kitab al-Ummah wa Siyāsah oleh cAbdullah bin Muslim.
  41. Majmac al-Zawaid oleh Hafiz Nuruddin al-Haithami.
  42. Maqāsid Hasanah oleh Syasuddi Muhammad bin cAbd al-Rahman.
  43. Masyir al-cAzam oleh Jamaluddin Abd al-Rahman bin al-Jauzi.
  44. Mazhahir al-Haq oleh Nawab Qatbuddin Khan Bahdur.
  45. Mirqah Syarah Misykah oleh Nuruddin cAli bin Sulţān Muhammad Harwi.
  46. Misykah Syarif oleh Waliyuddin Muhammad bin cAbdullah.
  47. Musamirah oleh Syeijh Akbar Ibn cArabī.
  48. Muşannif oleh cAbdullah bin Muhammad Ibn Abī Syaibah.
  49. Musnad Abu cAwānah oleh Yackub bin Ishaq bin Ibrahim Naisaburi.
  50. Musnad Abu Yacla oleh Ahmad bin cAli bin al-Nathna al-Muwaşal
  51. Musnad Ahmad oleh Ahmad bin Muhammad bin Hambal.
  52. Musnad al-Firdaus oleh Abu Mansur al-Dailamī.
  53. Musnad Bazzar oleh Abu BarAhmad bin cUmar al-Bazarī.
  54. Musnad Hakim oleh Muhammad bin cAbdullah bin Muhammad.
  55. Musnad Ibn Khuzaimah oleh Muhammad bin Ishaq Ibn Khuzaimah.
  56. Mustadrak Hakim oleh Muammad bin cAbdullah al-Naisaburī.
  57. Nazha Bsatin oleh cAbdullah bin Ascad Yaminī Yaficī.
  58. Qashaid Qasimī oleh Maulana Muhammad Qasim Nanatwi.
  59. Qiyam al-Lail oleh Muhammad bin Ahmad bin cAli Marwaz.
  60. Qurrah al-Acyun oleh Syeikh Abu Laith Samarqandī.
  61. Rahmah al-Muhtadah oleh Abu l-Khair Nur al-Hasan wa al-Husaini.
  62. Raudh al-Faiq oleh Syeikh Syucaib al-Harifaisyī
  63. Raudh al-Riyahin oleh cAbdullah bin Ascad Yamanī Yafici.
  64. Şahīh Muslim oleh Abu Hasan Muslim bin al-Hajjaj.
  65. Sunan Abu Daud oleh Abu Daud Sulaiman bin Asycath Sujastanī
  66. Sunan Dārimi oleh Abdullah bin Abdurrahman Darimi.
  67. Sunan Dar al-Qutnī oleh Abdul Hassan Ali bin cUmar bin Ahmad.
  68. Sunan Ibn Majah oleh Muhammad bin Yazid al-Qardinī.
  69. Sunan al-Nasai oleh Ahmad bin Syucaib bin cAli.
  70. Sunan al-Ţabranī oleh Abdul Qasīm Sulaiman bin Ahmad bin Ayub.
  71. Sunan al-Tirmidhi oleh Muhammad bin cIsa bin Surah al-Tirmdhi.
  72. Syamail  al-Tirmidhi oleh Muhammad bin cIsa bin Surah al-Tirmdhi.
  73. Syarh al-Sunnah oleh Husain bin Mascud al-Farail.
  74. Tadhkirah ak-Hufaz oleh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Zaibi.
  75. Tafsir Kabir oleh Imaduddin Abd al-Fadai Ismail bin Umair bin Kathir.
  76. Tafsir Khazin oleh Alauddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim.
  77. Tafisr cAzizi oleh Syah cAbd al-cAziz Dahlawi.  
  78. Tahdhib  al-Mustadhib oleh Ahmad bin cAli bin Hajar al-cAsqalani.
  79. Talqih Fuhum Athir oleh Jamaluddin Abd al-Rahman bin al-Jawazi.
  80. Tanbih al-Ghafilin oleh Syeikh Abu Laith Samarqandī.
  81. Tarikh Khamis oleh Syeikh Husain Muhammad Ibn al-Hasan.
  82. Tarikh al-Khulafa oleh Allamah Jalaluddin cAbd al-Rahman Suyuţī.
  83. Yusuf Zulaikha oleh Maulana cAbd al-Rahman Jamic.
  84. Zad al-Sacid fī Dhikr Nabiyyil Habib oleh Hadhrah Aqdas Thanwi.

Khalifah Umar Bin Khattab

Khalifah Umar Bin Khattab


Beliau adalah Khalifah kedua sepeninggal Rasulullah S.A.W beliau lahir dari pasangan seorang ayah bernama Khattab Bin Nufail Al-Qurasy Al-`Adwi dan ibunya Hantamah Binti Hisyam. Pada zaman jahiliyah (sebelum islam) Umar Bin Khattab adalah termasuk orang yang berkedudukan teratas di Suku Quraisy, yang mana beliau ikut mengurus masalah kesukuan.
Beliau juga terkenal sebagai ahli perniagaan yang amanah dan bermuamalah dengan baik. Kerjaya sebagai peniaga tetap beliau jalankan hingga pada ketika beliau dinobatkan sebagai khalifah.
Pada zaman jahiliyah Umar Bin Khattab dikenal sebagai orang yang tegas, terhormat, keras terhadap kesalaahan, lalu Allah memuliakan kaum muslimin dengan member hidayah padanya melalui keislamannya. Orang- orang islam pada awalnya menjadikan hunian Al-Arqom (Darul Arqom) tempat berkumpul dengan sembunyi- sembunyi kerana takut terhadap kekejaman orang- orang Quraisy.
Setelah umar menyatakan keislamanannya, beliau berkata kepada Rasulullah Saw : “wahai Rasulullah, atas dasar apa kita sembunyi- sembunyikan agama kita, sementara kita adalah benar, sedangkan mereka yang kita waspadai adalah salah?”
Mendengar yang demikian Rasulullah Saw. Menjawab : “kita sedikit, dan engkau sendiri sudah menyaksikan penderitaan yang kami terima”. Umar  menjawab : “demi yang telah mengutus engkau atas kebenaran, nanti tidak ada lagi tempat yang mulanya engkau datangi selama ini dengan tidak menampakkan keimanan, sekarang engkau terang- terangan menyatakan keimanan”.
Kemudia Rasulullah Saw berjalan dengan didampingi dua orang sahabat; Hamzah Bin Abu Thalib & Umar Bin Khattab hingga mereka berdua masuk kelingkungan Ka`bah. Orang- orang Quraisy melihat ada Hamzah dan Umar bersama Rasulullah Saw, yang membuat mereka tercengang dan merasa sangat kesal. Semenjak hari itu Rasulullah menggelar Umar dengan nama Al-Farouq yang ertinya seorang pemisah, yakni yang berani menyatakan dengan tindakan perbezaan yang hak dan batil. Orang-orang musyrik hanya pandai berkata, “Orang- orang kita telah terbagi dua”
Umar Bin Khattab termasuk sahabat Rasulullah Saw yang sangat tulus dalam menolong perjuangan beliau dan juga termasuk teman paling setia bagi Rasulullah. Beliau sangat kuat membela islam. Ini merupakan sikap yang tidak meungkin ada kecuali bagi orang yang dibukakan Allah dadanya lebar- lebar menerima islam dan beliau dipenuhi cahaya dari Tuhannya.

BICARA IMAN


BICARA IMAN

Allah telah memuliakan kita dengan IMAN
IMAN ini menjadikan kita bernilai disisi Allah
IMAN yang Allah berikan kepada kita sangat tinggi nilainya.


Jika kita kembali kepada Allah dengan membawa IMAN sebesar
Zarah nescaya Allah akan menukarkan iman itu dengan syurga yang seluas 10 kali ganda dunia ini.


Kalimah IMAN jika ditimbang dengan 7 petala bumi dan 7 petala langit, nescaya berat lagi kalimah IMAN.

IMAN inilah yang akan kita bawa apabila kita tinggalkan dunia ini.
Semua milik kita akan kita tinggalkan melainkan IMAN.


Di saat- saat genting kita hendak meninggalkan dunia ini IMAN sangat- sangat diperlukan.
Hanya yang mati dengan kalimah IMAN akan selamat dan berjaya.


Soalan pertama didalam kubur ialah mengenai IMAN.
Di neraca timbangan kalimah IMAN akan memberatkan neraca kebaikan.
Di titian siratul mustaqim kalimah IMAN akan mencayahai kegelapannya.
Nilai syurga adalah IMAN.



Rasulullah SAW telah dihantar ke dunia ialah untuk usaha atas IMAN manusia.
Selama 13 tahun para Sahabat Ra usaha  atas IMAN dengan pengorbanan.


Rasulullah Saw adalah guru IMAN yang terbaik
Para Sahabat Ra ialah murid IMAN yang terbaik.


Jika kita usaha atas IMAN, IMAN akan meningkat.
Tanda IMAN meningkat ialah amal kita akan meningkat
Jika IMAN kita lemah, amal kita juga lemah.


Didunia syaitan dan nafsu berusaha merosakkan IMAN kita.
Untuk itu kita harus wujudkan mauhul IMAN.
Bila ada mauhul IMAN, umat akan muda ta`at perintah Allah.
Mauhul IMAN akan hidup dengan 5 amal.


1.         Tiga hari setiap bulan (72 jam duduk dalam suasana usaha atas IMAN)
2.       Dua gash setiap minggu ( 1 ditempat kita, 1 di tempat jiran)
3.       Dua taklim setiap hari (1 di rumah kita, 1 di masjid)
4.       Dua setengah jam setiap hari ( buat usaha bina mauhul iman di tempat/ masjid kita.)
5.       Fikir harian. (fikir bagaimana wujudkan/ kuatkan mauhul IMAN)

Dan pada malam hari kita bangun berdoa menangis ke hadrat ilahi memohon IMAN dan diwujudkan mauhul IMAN di tempat kita dan di seluruh alam.

Mutiara Para Dai, Abu Basyir Ad-Daiki Al-Jawi


******Iman amat bernilai dan berharga pada kita semua, iman ini lah yang menentukan masa depan kita. Jikalau cerah iman kita, mantap iman kita dan suci iman kita, maka segala perkara- perkara baik akan datang pada kita.





Jika saudara / saudari tidak dapat duduk dalam 5 amal buat lah dakwah, jumpa manusia dan cerita kebesaran Allah, kehebatan Allah dan keagungan Allah.. bangunlah time tengah malam doa dan nangis depan Allah minta Allah beri kita hidayah dan taufik… insya Allah…
Allah sentiasa mendengar rintihan hamba- hambaNya dan mengkabulkannya. Yakin lah pada Allah, nescaya kamu akan rasa 1 hal yang luar biasa pada hati kamu dan kehidupan kamu..



Kesempurnaan Akal Fikiran Rasulullah SAW



KESEMPURNAAN AKAL FIKIRAN NABI SAW

Akal yang sempurna, adalah pokok pangkal segala sifat terpuji dan pendoroang kepada tingkah laku yang terpuji dan pendorong kepada tingkah laku yang terarh, dengan petunjuk akal, dapat dibezakan antara yang baik dan yang buruk, serta membawa seorang mencapai sesuatu yang lebih utama. Sebagaimana kisahmasuknya Khalid bin walid ke dalam agama islam, tatkala ia dating menghadap nabu saw setelah ia mengucapkan salam, berkata : yaa rasulullah, aku menyasikkan bahawa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa engkau adalah utusannya, nabi lalu mempersilakannya masuk dan duduk, kemudian nabi berkata kepadanya; segala puji bagi allah yang telah member petunjuk kepadamu, memang aku melihat engkau seorang yang berakal sihat, maka aku harap kiranya akal itu tidak akan membawamu melainkan kepada segala baik.

                At- Thabarani Meriwayatkan dari Gurrah Bin Hurairah bahawa tatkala Khalid datang menghadap Nabi Muhammad Saw berkata kepadanya : Kami yang selama ini: menyembah berhala sebagai tuhan, berseru memanggilnya namun benda itu mati, tidak sanggup menjawab, dan kami mencuba meminta daripadanya, akan tetapi tidak pernah ia memberi sesuatu kepada kami, lalu Allah memberi petunjuk dan hidayatNya, kami sekarang menyembah hanya kepada Allah semata -mata, maka Nabi menyambut dengan sabdanya: Bahagia benar siapa yang dikurniakan akal oleh Tuhan.

Dan bahawa akal fikiran Nabi Muhammad Saw telah mencapai puncak kesempurnaan yang tidak pernah dicapai oleh siapapun juga, sebagai nikmat kurnia Tuhan kepadanya hal itu telah ditegaskan oleh Allah dalam Firmannya :
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu,(Muhammad) sekali- kali bukan orang gila.
 (Al-Quran surah Al-Qalam 1-2)

Ertinya engkau wahai Rasulullah, akal fikiranmu berada di tingkat yang tertinggi, tuhan yang bersumpah dengan Nun, yang bererti limpahan kurnia ilahi, dan bersumpah lagi dengan Al-Qalam, pena yang berada di alam tertinggi, dan pernah suaranya didengar oleh nabi, tatkala menuliskan segala sesuatu, yang ada, yang sedang, dan yang akan terjadi, Allah bersumpah dengan makhluk- makhluk yang agung itu, untuk menegaskan kelas dan cerdas akal fikiran Nabi Saw dan bahawa baginda jauh daripada sifat hilang atau kekurangan akal.

                Dia adalah yang berakal sempurna, berilmu yang luas, betapa tidak bukanlah Allah memberikan kepadanya nikmat dan kurnia kenabian dan kerasulan, dan kepadanya Al-Quran wahyu ilahi yang penuh berisi segala ilmu pengetahuan yang tidak mungkin diemban melainkan oleh yang dikurnai tuhan sesempurna- sempurna akal dan fikiran.

Oleh kerana ia bukan seorang yang kehilangan atau kekurangan akal fikiran, ayat itu dengan tegas dan jelas membantah apa yang dituduhkan oleh lawan- lawanya, yang kafir dan ingkar kepadanya, kerana sungguh tidak logik dan tidak dapat digambarkan, bahawa seorang yang datang membawa Al-Quran yang penuh berisi Hikmat, Ilmu, dan pengetahuan itu sedang ia sendiri tidak berakal dan berfikir sempurna.

Waheb bin muhabbih, seorang tabi`in, dan dari padanya, Al-Bukhari dan Muslim, juga menerima riwayat beberapa hadis, bahawa ia berkata : aku telah membaca tujuh puluh satu kitab, yang diturunkan Allah dahulu kepada para nabiNya, dalam semuanya, aku dapati bahawa perbandingan akal fikiran yang dikurniakan Allah kepada manusia, dengan akal fikiran Muhammad S.A.W, ibarat sebutir dibandignkan dengan pasir- pasir yang ada di dunia ini, demikianlah yang tersebut dalam Syarhul Mawahib.

Dan kesempurnaan akal Nabi Saw serta pandangan yang jauh, jelas terlihat, dalam sikapnya menghadapi masyarakat sekelilingnya, yang tengah dilanda kemelut jahiliah dalam semua segi kehidupannya, akal manusia yang telah sesat itu, tidak mudah diubah menjadi akal budi yang lurus, benar, dan sihat, untuk itu memerlukan seorang pimpinan yang berpandangan jauh, berfikiran jernih, dan tidak ragu lagi bahawa ajaran yang ditegakkan oleh baginda itu, bersumberkan wahyu Tuhan seru sekalian alam, akan tetapi ajaran tuhan itu mencukupi akal fikiran yang cemerlang, dan sudah disempurnakan secara khusus bagi yang mengembangkan tugas berat itu.

Kesempurnaan akal Nabi Saw juga terlihat, pada cara baginda berdialog dengan penyembah- penyembah berhala, dan dalih- dalih mantap yang dikemukakan terhadap golongan Yahudi dan Nasrani, yang tidak terbantahkan dan tak sanggup disangkal atau dingkari.

Demikian juga akal fikiran baginda, terbukti kesempurnaannya dalam cara pengarahannya kepada pemuda yang datang, meminta izin agar ia diperkenankan melakukan zina atau perbuatan terlarang, Nabi Saw lalu bertanya kepadanya, sukakah perbuatan keji itu dilakukan orang terhadap ibumu? Atau terhadap saudara perempuanmu? Atau puterimu sendiri? Pemuda itu menjawab tegas tidak, demikian juga setiap orang tidak ada yang menyukai perbuatan itu dilakukan terhadap keluarganya, sambung Nabi Saw menjelaskan, maka timbullah kesedaran dan keinsafan dalam hati pemuda itu, kemudian ia berkata: Saksikanlah ya Rasulullah, bahawa aku benar- benar bertaubat, dari perbuatan durjana itu!

Dan kesempurnaan akal fikiran Nabi Saw tampak juga dalam mengambil sesuatu keputusan secara tepat dan bijaksana, seperti yang terjadi ketika suku Quraisy terlibat dalam pertentangan dan saling sengketa, tentang siapakah yang berhak melatakkan hajar aswad ke tempatnya semula di ka`bah Baitullah?

Hubairah bin waheb menceritakan peristiwa itu sebagai berikut : setelah suku Quraisy, selesai memugar Ka`Bah, maka timbullah perselisihan siapakah yang paling layak mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula? Setiap kabilah dan setiap kelompok sama mengingininya, kerana hal itu dipandang sebagai kehormatan dan kemulian yang tiada taranya, sehingga terjadi persahabatan dan pertentangan yang sengit, bahkan suasana semakin panas, dan mengarah kepada suatu pertumpuhan darah dan perang saudara, dengan segala akibatnya yang menyedihkan, suasana yang semakin lama semakin tegang itu, berlangsung empat atau lima hari, kemudian mereka bermusyawarah di Masjid Al Haram, dan bersepakat bulat, memutuskan : Bahawa siapapun yang datang pertama kali dan memasuki masjid hari itu dialah yang akan diserahkan untuk memutus perkara yang pelik itu, dan semuanya sama berikrar dan berjanji, akan mematuhi keputusan itu, secara kebetulan Nabi Saw lah yang pertama datang dan masuk pintu masjid hari itu, maka semua merasa gembira, dan serentak berkata : Tepat sekali dialah seorang yang jujur (Al-amien), kita semua akan menerima dengan senang hati, segala keputusan yang akan diambilnya, maka Nabi Saw mengambil sehelai serban yang dibentang dan meminta agar setiap ketua kabilah, memegang hujung serban yang telah terbentang itu, dimana Hajar Aswad sudah diletakkam di atas rentangan serban, kemudian serban itu diangkat  bersama-sama, setelah sampai dekat tempatnya semula, maka baginda sendiri meletakkannya, dengan keputusan yang bijaksana itu, maka kemulut yang nyaris membawa kemusnahan dan pergaduhan itu dapat diselesaikan, memutuskan semua pihak yang berselisih, dan diterima dengan perasaan lega.



Kami merinduimu YA RASULULLAH
di adaptasi dan sumber dari kitab Insan Kamil (Muhammad SAW) karangan As-sayyid muhammad alwy al-maliki.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...