Posted by
Unknown
comments (1)
Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr
RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR & HAJR]
Allah menjelaskan bahwa Nabi-Nya, Muhammad, sebagai orang yang memiliki akhlak yang agung. Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Sungguh, kamu mempunyai akhlak yang agung” [Al-Qalam : 4]
Allah juga menjelaskan bahwa beliau adalah orang yang ramah dan lemah lembut. Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu” [Ali Imran : 159]
Allah juga menjelaskan bahwa beliau adalah orang yang penyayang dan memiliki rasa belas kasih terhadap orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” [At-Taubah : 128]
Rasulullah memerintahkan dan menganjurkan kita agar senantiasa berlaku lemah lembut. Beliau bersabda.
“Artinya : Mudahkanlah dan jangan kamu menyulitkan, berilah khabar gembira dan janganlah kamu membuat orang lari”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734 dari Anas bin Malik. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim no. 1732 dari Abu Musa dengan lafaz.
“Artinya : Berilah khabar gembira dan jangan kamu membuat orang lari. Mudahkanlah dan janganlah kamu menyulitkan”.
Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no.220 meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya pada kisah tentang seorang Arab Badui yang kencing di masjid.
“Artinya : Biarkanlah dia ! Tuangkanlah saja setimba atau seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan untuk mempersulit”
Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah hadits no.6927 bahwa Rasulullah bersabda.
“Artinya : Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim no. 2593 dengan lafaz.
“Artinya : Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Maha lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya”
Muslim meriwayatkan hadits dalam kitab Shahihnya no.2594 dari Aisyah, Nabi bersabda.
“Artinya : Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek”
Muslim juga meriwayatkan hadits no. 2592 dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi bersabda.
“Artinya : Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan”.
Allah pernah memerintahkan dua orang nabiNya yang mulia yaitu Musa dan Harun untuk mendakwahi Fir’aun dengan lembut. Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia telah berbuat melampui batas. Berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia mahu ingat atau takut” [Thaha : 43-44]
Allah juga menjelaskan bahawa para sahabat yang mulia sentiasa saling bekasih sayang. Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah. Orang-orang yang selalu bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” [Al-Fath : 29]
[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]
Posted by
Unknown
comments (0)
Berdo’a itu mempunyai adab dan tata tertib yang harus diperhatikan oleh orang yang akan melaksanakannya.
Diantara adab dan tata tertib berdo’a adalah sebagai berikut :
a. Mencari yang halal ( memakan dan menggunakan barang yang halal dan menjauhi yang haram )
Diriwayatkan oleh Hafizh bin Mardawaih dari Ibnu Abbas ra, katanya : “Saya membaca ayat di hadapan Nabi SAW yang artinya : “Hai manusia makanlah barang-barang halal lagi baik yang terdapat dimuka bumi”.
Tiba-tiba berdirilah Sa’ad Abi Waqqash, lalu katanya : “Ya Rasulullah! Tolong anda do’akan kepada Allah, agar saya dijadikan orang yang selalu dikabulkan do’anya”.
Ujar Nabi : “Hai Sa’ad! Jagalah soal makananmu, tentu engkau akan menjadi orang yang terkabul do’anya! Demi Tuhan yang nyawa Muhammad berada dalam genggamannya! Jika seorang laki-laki memasukkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima do’anya selama empat puluh hari. Dan siapa juga hamba yang dagingnya tumbuh dari makanan haram atau riba, maka neraka lebih layak untuk melayaninya!”
Dan dalam musnad Imam Ahmad dari Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Hai manusia! Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tak hendak menerima kecuali yang baik. Dan Allah telah menitahkan kaum Mukminin melakukan apa-apa yang telah dititahkan-Nya kepada para Mursalin, firman-Nya :
”Hai para Rasul ! Makanlah olehmu makanan
yang baik, dan beramal solehlah! Sesungguh, terhadap apa juga yang kamu lakukan, Aku Maha Mengetahui !”.(Q.S. Al-Mukminin : 51)
rujukan : http://basaudan.wordpress.com/2011/03/24/adab-berdoa/#more-2488
Posted by
Unknown
comments (0)
"Walisongo" berarti sembilan orang wali, Walisongo atau Walisanga dikenali sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17. Mereka tidak hidup pada saat yang bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai kaitan erat, samaada dalam ikatan darah atau dalam hubungan guru-murid.
Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, iaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. "Walisongo" bererti sembilan orang wali.
Era Walisongo mengakhiri penguasaan kebudayaan Hindu-Buddha dalam budaya Nusantara dan digantikan dengan kebudayaan Islam. Walisongo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Peranan mereka sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat Walisongo ini lebih banyak disebut berbanding dengan ulama yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peranan unik dalam penyebaran Islam. Nama Walisongo adalah
§ Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua di antara Walisongo.
§ Sunan Ampel atau Raden Rahmat pula adalah putera daripada Maulana Malik Ibrahim.
§ Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim adalah putera daripada Sunan Ampel.
§ Sunan Drajat atau Raden Qasim adalah putera daripada Sunan Ampel.
§ Sunan Kalijaga atau Raden Said merupakan sahabat dan murid Sunan Bonang.
§ Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq adalah anak murid Sunan Kalijaga.
§ Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin adalah anak
§ saudara Maulana Malik Ibrahim dan sepupu Sunan Ampel .
§ Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putera Sunan Kalijaga.
§ Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim telah meninggal terlebih dahulu.
Mereka adalah para intelektual yang menjadi pencetus perubahan masyarakat. Mereka memperkenalkan berbagai bentuk peradaban baru, mulai dari kesihatan, bercucuk tanam, berniaga, kesenian dan kebudayaan, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu.
Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah artis karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Posted by
Unknown
comments (0)
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah! Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”
----
إِلَيْهِ وَأَتُوْبُ الْقَيُّوْمُ يُّ الْحَهُوَ إِلاَّ إِلَـهَ لاَ الَّذِيْ الْعَظِيْمَ اللهَ أَسْتَغْفِرُ
ASTAGHFIRULLAH AL`AZIM ALLAZI LAA ILLAHA ILLAHUWAL HAYYULL QAYYUM WA ATUBU ILAIK.
Rasul Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca: ‘Aku minta ampun kepada Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Hidup dan terus-menerus mengurus makhlukNya.’ Maka Allah mengampuninya. Sekalipun dia pernah lari dari perang.”
KITAB HISNUL MUSLIM
Said bin Ali Al Qathani
Posted by
Unknown
comments (0)
BOM SYAHID ATAU BOM BUNUH DIRI
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2
Pengantar
Sebagian orang menganggap aksi bom bunuh diri termasuk jihad fi sabilillah, dan pelakunya dikatakan sebagai orang yang syahid, bahkan banyak jama’ah dakwah yang menyeru anggotanya untuk berpartisipasi dan mendukungnya. Akan tetapi... di pihak lain, sebagian besar kaum muslimin bertanya-tanya : Benarkah aksi ini dikatakan sebagai bentuk jihad ? Apakah Islam membolehkan segala cara dalam semua ibadah termasuk cara-cara berjihad yang merupakan bagian dari ibadah?
Realita menunjukkan bahwa cara-cara aksi bom bunuh diri tidak membuat jera orang-orang kafir, bahkan orang kafir semakin membabi buta untuk mengintimidasi dan membantai kaum muslimin dimana-mana. Jika dari kalangan mereka mati satu atau sepuluh orang, maka mereka membalasnya dengan membantai lebih dari itu dengan cara-cara yang biadab. Lantas ... apa manfaat dan keuntungan dari aksi-aksi bom bunuh diri itu bagi kaum muslimin ?
Untuk lebih memperjelas masalah ini, kami nukilkan fatwa ulama salafiyyin robbaniyyin tentang aksi bom bunuh diri.
_________________________________________________________________________
Di dalam Syarah Riyadush Shalihin 1/165-166 setelah menyebutkan syarah hadits kisah Ashabul Ukhdud beliau menyebutkan faidah-faidh yang dapat diambil dari kisah ini diantaranya.
Sesungguhnya seseorang boleh mengorbankan dirinya untuk kemaslahatan kaum muslimin secara umum, pemuda ini menunjukkan kepada raja yang menuhankan dirinya suatu hal yang bisa membunuhnya, yaitu dengan mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya …
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Karena ini adalah jihad fi sabilillah, seluruh umat beriman semuanya dalam keadaan pemuda ini tidak kehilangan apa-apa, karena dia mati, dan pasti dia akan mati cepat atau lambat”
Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan bunuh diri, yaitu dengan membawa alat peledak dibawa ke tempat orang kafir, kemudian dia ledakkan ketika dia di antara orang-orang kafir, maka dia tergolong perbuatan bunuh diri –Semoga kita dilindungi Allah Jalla Jallaluhu darinya-. Barangsiapa yang bunuh diri maka dia kekal di neraka Jahannam selama-lamanya, sebagaimana datang dalam hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi itu diletakkan di tangannya, ditusukkan ke perutnya di neraka jahannam dia kekal di dalamnya.” [Shahih Bukhari 5778 dan Shahih Muslim 109]
Karena orang ini membunuh dirinya bukan untuk maslahat Islam ; karena jika dia membunuh dirinya dengan membunuh sepuluh, atau seratus, atau dua ratus orang kafir, maka Islam tidak mendapatkan manfaat sama sekali dari perbuatannya, manusia tidak akan beriman. Berbeda dengan kisah pemuda ashabul ukhdud di atas. Dengan bom bunuh diri ini bisa jadi membuat musuh lebih congkak, sehingga mereka memberikan balasan kepada kaum muslimin yang lebih kejam dari itu.
Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap penduduk Palestina, jika ada seorang penduduk Palestina yang mati dengan bom bunuh diri, dan menewaskan 6 atau 7 orang Yahudi, maka orang-orang Yahudi membalas dengan menewaskan 60 orang Palestina atau lebih dari itu, maka bom bunuh diri ini tidak memberikan manfaat bagi kaum muslimin, dan tidak juga bagi orang-orang yang diledakkan bom ini di barisan mereka.
Karena inilah kami memandang bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian orang dari bunuh diri ini, kami memandang bahwa dia telah membunuh jiwa dengan tidak haq, dan perbuatannya ini membawa dia ke neraka –Semoga kita dilindungi Allah Jalla Jalaluhu darinya-, dan pelakunya tidaklah syahid, tetapi jika ada seseorang yang melakukan perbuatan ini karena mentakwil dengan menyangka bahwa perbuatan ini dibolehkan syari’at, maka kami mengharap semoga dia selamat dari dosa. Adapun dia tertulis sebagai orang yang syahid maka tidak, karena dia tidak menempuh jalan syahid yang benar, dan barangsiapa yang berijtihad dan keliru maka dia mendapat satu pahala”.
Di dalam kaset Liqo’ Syarhy : 20 ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
Pertanyaan.
Fadhilatusy Syaikh ! Engkau telah mengetahui –semoga Allah Jalla Jalaluhu menjagamu- apa yang terjadi pada hari Rabu kemarin dari suatu peristiwa yang menewaskan dari 20 orang Yahudi di tangan salah seorang mujahidin Palestina, dia juga melukai sekitar 50 orang Yahudi. Seorang mujahidin ini meletekkan alat peledak di dalam tubuhnya, kemudian masuk di sebuah rombongan kendaraan mereka dan dia ledakkan, dia melakkan itu dengan sebab.
Pertama : Dia tahu bahwa kalau dia tidak terbunuh sekarang hari itu maka besoknya akan dibunuh, karena orang-orang Yahudi membunuh para pemuda muslim di sana dengan berencana.
Kedua : Para mujahidin ini melakukan hal itu karena membalas dendam terhadap orang-orang Yahudi yang telah membunuh orang-orang yang sholat di masjid Ibrahimy.
Ketiga : Mereka mengetahui bahwa orang-orang Yahudi dan Nahsara membuat rancangan untuk menghilangkan ruh jihad yang ada di Palestina.
Pertanyaan : Apakah perbuatan dia ini dianggap bunuh diri atau dianggap jihad? Apa nasihatmu dalam keadaan seperti ini, karena jika kami telah mengetahui bahwa perbuatan ini adalah perbuatan yang diharamkan maka semoga kami bisa menyampaikannya kepada saudara-saudara kami di sana, -Semoga Allah Jalla Jalaluhu memberikan taufiq kepadamu-?”
Jawaban.
Pemuda ini yang meletakkan bahan peledak di tubuhnya, pertama kali yang dia bunuh adalah dirinya. Tidak diragukan lagi bahwa dialah yang menyebabkan pembunuhan dirinya. Hal seperti ini tidak dibolehkan kecuali jika dapat mendatangkan maslahat yang besar dan manfaat yang agung kepada Islam, maka hal itu dibolehkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- telah memberikan nash pada masalah ini, membuat permisalan untuk hal ini dengan kisah seorang pemuda, seorang pemuda mukmin yang berada di suatu umat yang dipimpin oleh seorang raja yang musyrik dan kafir. Raja yang kafir dan musyrik ini membunuh pemuda yang beriman ini, dia berupaya berulang kali, dia lemparkan pemuda itu dari atas gunung, dia lemparkan pemuda itu ke lautan, tetapi setiap upaya pembunuhan -itu gagal karena Allah Jalla Jalaluhu selalu menyelamatkan pemuda itu, maka heranlah raja musyrik itu.
Suatu hari pemuda itu berkata kepada raja musyrik itu : “Apakah kamu ingin membunuhku ?” raja itu berkata : “Ya, tidaklah aku melakukan semua ini melainkan untuk membunuhmu”. Pemuda itu berkata : “Kumpulkan orang-orang di tanah lapang, kemudian ambillah satu panah dari tempat panahku, letakkanlah dia di busurnya, kemudian lepaskanlah kepadaku dan katakanlah: ”Dengan nama Allah Rabb pemuda ini”. Adalah penduduk raja ini jika menyebut mereka mengucapkan : Dengan nama raja, akan tetapi pemuda ini berkata kepada raja ini : Katakanlah : Dengan nama Allah Rabb pemuda ini.
Maka raja ini mengumpulkan orang-orang di satu tempat yang luas, kemudian dia mengambil sebuah anak panah dari tempat panah pemuda itu, dia letakkan di busurnya seraya mengatakan : Dengan nama Allah Jalla Jalaluhu Rabb pemuda ini. Dia lepaskan anak panah itu sampai mengenai pemuda itu dan matilah dia. Melihat kejadian itu berteriaklah semua orang : “Tuhan adalah Tuhan pemuda ini, Tuhan adalah Tuhan pemuda ini”. Dan mereka ingkari penuhanan raja yang musyrik ini. Mereka berkata : “Raja ini telah melakukan segala cara yang memungkinkan untuk membunuh pemuda ini, ternyata dia tidak mampu membunuhnya. Ketika dia mengucapkan satu kalimat : Dengan menyebut Allah Jalla Jalaluhu Rabb pemuda ini, dia bisa mati. Kalau demikian pengatur semua kejadian adalah Allah Jalla Jalaluhu, maka berimanlah semua manusia.
Syaikhul Islam berkata : Perbuatan pemuda ini mendatangkan manfaat yang besar bagi Islam.
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa yang menyebabkan kematian terbunuhnya pemuda ini adalah dia sendiri, tetapi dengan kematiannya didapatkan manfaat yang besar ; suatu umat beriman semuanya. Jika bisa didapatkan manfaat seperti ini maka dibolehkan bagi seseorang menebus agamanya dengan jiwanya. Adapun sekedar membunuh sepuluh atau dua puluh tanpa ada faidah, dan tanpa mengubah apapun maka perbuatan ini perlu dilihat lagi, bahkan hukumnya adalah haram, bisa jadi orang-orang Yahudi membalasnya dengan membunuh ratusan kaum muslimin.
Kesimpulannya bahwa perkara-perkara seperti ini membutuhkan fiqih dan tadabbur, dan melihat akibatnya, membutuhkan tarjih (penguatan) maslahat yang lebih tinggi dan menangkal mafsadah yang lebih besar, kemudian sesudah itu dipertimbangkan setiap keadaan dengan kadarnya”
[Koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 20-21]
[Disunting dari majalan Al-Furqon, edisi 3 Tahun IV, hal. 23-28, Judul BOM Syahid Atau Bunuh Diri, Penyusun Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jawa Timur]
----------------------------------------------------------------------------------
BOM SYAHID ATAU BOM BUNUH DIRI
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum syar’i bagi orang meletakkan bahan peledak di tubuhnya, kemudian dia ledakkan di antara komunitas orang-orang kafir untuk menewaskan mereka ? Apakah benar jika dia berdalil dengan kisah seorang pemuda yang hendak dibunuh oleh raja yang musyrik ?”
Jawaban
Orang yang meletakkan bahan peledak dalam tubuhnya dengan tujuan untuk meledakkannya bersama dirinya di komunitas musuh, adalah orang yang membunuh dirinya. Dia akan diadzab karena membunuh dirinya di neraka Jahannam kekal di dalamnya, sebagaimana telah tsabit hal itu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ancaman orang bunuh diri dengan sesuatu maka dia diadzab dengan sesuatu yang membunuhnya di neraka Jahannam”.
Alangkah aneh mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti ini, padahal mereka membaca firman Allah Jalla Jalaluhu.
“Artinya : Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu …”[An-Nisa : 29]
Kemudian mereka melakukan perbuatan itu, apakah mereka memetik sesuatu ? apakah musuh kalah?! Ataukah musuh semakin keras kepada mereka yang melakukan bom bunuh diri ini, sebagaimana hal ini terlihat di negeri Yahudi, dimana perbuatan seperti ini tidak menambah mereka kecuali mereka semakin gigih dengan kebrutalan mereka, bahkan kami dapati pooling terakhir dimenangkan oleh kelompok kanan yang ingin menghabiskan orang-orang Arab.
Akan tetapi barangsiapa yang melakukan hal ini dengan ijtihadnya menyangka bahwa ini adalah sarana pendekatan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu maka kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak menghukumnya ; karena dia seorang jahil yang mentakwil….
Adapun pendalilan dengan kisah pemuda ashabul ukhdud, maka kisah pemuda ini didapatkan darinya umat yang masuk Islam, tanpa menewaskan musuh, karena itu ketika raja mengumpulkan orang-orang, dan mengambil sebuah panah dari tempat panah pemuda seraya mengatakan : Dengan nama Allah Jalla Jalaluhu Tuhan pemuda ini, (hingga terbunuhlah pemuda itu) maka orang-orang semuanya berteriak : Tuhan yang benar adalah Tuhan pemuda ini. Maka dengan kematian pemuda ini didapatkan keislaman sebuah umat yang besar.
Seandainya hal seperti ini terjadi maka sungguh kami akan mengatakan bahwasanya di sana ada tempat untuk berdalil dengan kisah ini, dan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan kisah ini agar kita mengambil ibrah darinya. Tetapi orang yang meledakkan diri-diri mereka jika membunuh sepuluh atau seratus musuh, maka hal itu tidak menambah musuh kecuali semakin marah kepada kaum muslimin dan semakin gigih dengan apa keyakinan mereka.
[Majalah Al-Furqon Kuwait, edisi 79, hal.18-19 dan Koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 20]
[Disunting dari majalan Al-Furqon, edisi 3 Tahun IV, hal. 23-28, Judul BOM Syahid Atau Bunuh Diri, Penyusun Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jawa Timur]
APA HUKUM PERKATAAN FULAN SYAHID ?
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Apa hukum perkataan, 'Fulan Syahid ?'.
Jawaban.
Jawaban atas hal itu adalah bahwa seseorang dikatakan syahid itu dengan dua sisi yaitu :
Pertama.
Hendaknya terikat dengan suatu sifat, seperti : Dikatakan bahwa setiap orang yang dibunuh fisabillah adalah syahid, orang yang dibunuh karena membela hartanya adalah syahid, orang yang mati karena penyakit thaun adalah syahid dan yang semacamnya. Ini adalah boleh sebagai mana yang terdapat dalam nash, dan karena kamu menyaksikan dengan apa yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang kami maksud boleh adalah tidak dilarang. Jika menyaksikan hal itu, maka wajiblah membenarkan khabar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kedua.
Menentukan syahid bagi seseorang, seperti kamu mengatakan kepada seseorang, dengan menta'yin bahwa dia syahid. Ini tidak boleh kecuali yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau umat sepakat atas kesyahidannya. Al-Bukhari dalam menerangkan hal ini ia berkata : Bab. Tidak Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid. Ia berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman. 90, yaitu : Tidak Memvonis Syahid Kecuali Ada Wahyu. Seakan dia mengisyaratkan hadits Umar, bahwa beliau berkhutbah. "Dalam peperangan, kalian mengatakan bahwa si Fulan Syahid, dan si Fulan telah mati syahid. Mudah-mudahan perjalanannya tenang. Ketahuilah, janganlah kalian berkata demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : Barangsiapa mati di jalan Allah atau terbunuh maka ia syahid". Ini adalah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Sa'id bin Manshur dan lainnya dari jalur Muhammad bin Sirrin dan Abi Al-A'jafa' dari Umar.
Karena persaksian terhadap suatu hal yang tidak bisa kecuali dengan ilmu, sedang syarat orang menjadi mati syahid adalah karena ia berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Ini adalah niat batin yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda sebagai isyarat akan hal itu.
"Artinya : Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah, dan Allah lebih tahu siapa yang berjihad di jalan-Nya...." [Hadits Riwayat Bukhari : 2787]
Dan sabda beliau.
"Artinya : Demi Dzat diriku berada ditangan-Nya tidaklah seseorang terluka di jalan Allah kecuali datang dihari kiamat sedang lukanya mengalir darah, warnanya warna darah dan baunya bau Misk" [Hadits Riwayat Bukhari : 2803]
Akan tetapi orang yang secara dhahirnya baik, maka kami berharap dia syahid. Kami tidak bersaksi atas syahidnya dia dan juga tidak berburuk sangka kepadanya. Raja' (berharap) itu satu posisi di antara dua posisi (bersaksi dan buruk sangka), akan tetapi kita memperlakukannya di dunia dengan hukum-hukum syahid, jika ia terbunuh dalam jihad fi sabilillah. Ia dikubur dengan darah di bajunya tanpa menshalatinya. Dan untuk syuhada' yang lain, dimandikan, dikafani dan dishalati.
Karena, kalau kita bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid konsekwensinya adalah kita bersaksi bahwa ia masuk surga. Mereka tidak bersaksi atas seseorang dengan surga kecuali dengan sifat atau seseorang yang disaksikan oleh Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa boleh kita bersaksi atas syahidnya seseorang yang umat sepakat memujinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah termasuk yang berpendapat seperti ini.
Dengan ini, maka menjadi jelas bahwa kita tidak boleh bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid kecuali dengan nash atau kesepakatan. Akan tetapi bila dhahirnya baik maka kita berharap demikian sebagaimana keterangan diatas, dan cukuplah nasihat tentang ini, sedangkan ilmunya ada di sisi Sang Pencipta.
[Disalin dari buku Majmu' Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Aqidah, hal. 208-210 Pustaka Arafah]
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2
Pengantar
Sebagian orang menganggap aksi bom bunuh diri termasuk jihad fi sabilillah, dan pelakunya dikatakan sebagai orang yang syahid, bahkan banyak jama’ah dakwah yang menyeru anggotanya untuk berpartisipasi dan mendukungnya. Akan tetapi... di pihak lain, sebagian besar kaum muslimin bertanya-tanya : Benarkah aksi ini dikatakan sebagai bentuk jihad ? Apakah Islam membolehkan segala cara dalam semua ibadah termasuk cara-cara berjihad yang merupakan bagian dari ibadah?
Realita menunjukkan bahwa cara-cara aksi bom bunuh diri tidak membuat jera orang-orang kafir, bahkan orang kafir semakin membabi buta untuk mengintimidasi dan membantai kaum muslimin dimana-mana. Jika dari kalangan mereka mati satu atau sepuluh orang, maka mereka membalasnya dengan membantai lebih dari itu dengan cara-cara yang biadab. Lantas ... apa manfaat dan keuntungan dari aksi-aksi bom bunuh diri itu bagi kaum muslimin ?
Untuk lebih memperjelas masalah ini, kami nukilkan fatwa ulama salafiyyin robbaniyyin tentang aksi bom bunuh diri.
_________________________________________________________________________
Di dalam Syarah Riyadush Shalihin 1/165-166 setelah menyebutkan syarah hadits kisah Ashabul Ukhdud beliau menyebutkan faidah-faidh yang dapat diambil dari kisah ini diantaranya.
Sesungguhnya seseorang boleh mengorbankan dirinya untuk kemaslahatan kaum muslimin secara umum, pemuda ini menunjukkan kepada raja yang menuhankan dirinya suatu hal yang bisa membunuhnya, yaitu dengan mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya …
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Karena ini adalah jihad fi sabilillah, seluruh umat beriman semuanya dalam keadaan pemuda ini tidak kehilangan apa-apa, karena dia mati, dan pasti dia akan mati cepat atau lambat”
Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan bunuh diri, yaitu dengan membawa alat peledak dibawa ke tempat orang kafir, kemudian dia ledakkan ketika dia di antara orang-orang kafir, maka dia tergolong perbuatan bunuh diri –Semoga kita dilindungi Allah Jalla Jallaluhu darinya-. Barangsiapa yang bunuh diri maka dia kekal di neraka Jahannam selama-lamanya, sebagaimana datang dalam hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi itu diletakkan di tangannya, ditusukkan ke perutnya di neraka jahannam dia kekal di dalamnya.” [Shahih Bukhari 5778 dan Shahih Muslim 109]
Karena orang ini membunuh dirinya bukan untuk maslahat Islam ; karena jika dia membunuh dirinya dengan membunuh sepuluh, atau seratus, atau dua ratus orang kafir, maka Islam tidak mendapatkan manfaat sama sekali dari perbuatannya, manusia tidak akan beriman. Berbeda dengan kisah pemuda ashabul ukhdud di atas. Dengan bom bunuh diri ini bisa jadi membuat musuh lebih congkak, sehingga mereka memberikan balasan kepada kaum muslimin yang lebih kejam dari itu.
Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap penduduk Palestina, jika ada seorang penduduk Palestina yang mati dengan bom bunuh diri, dan menewaskan 6 atau 7 orang Yahudi, maka orang-orang Yahudi membalas dengan menewaskan 60 orang Palestina atau lebih dari itu, maka bom bunuh diri ini tidak memberikan manfaat bagi kaum muslimin, dan tidak juga bagi orang-orang yang diledakkan bom ini di barisan mereka.
Karena inilah kami memandang bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian orang dari bunuh diri ini, kami memandang bahwa dia telah membunuh jiwa dengan tidak haq, dan perbuatannya ini membawa dia ke neraka –Semoga kita dilindungi Allah Jalla Jalaluhu darinya-, dan pelakunya tidaklah syahid, tetapi jika ada seseorang yang melakukan perbuatan ini karena mentakwil dengan menyangka bahwa perbuatan ini dibolehkan syari’at, maka kami mengharap semoga dia selamat dari dosa. Adapun dia tertulis sebagai orang yang syahid maka tidak, karena dia tidak menempuh jalan syahid yang benar, dan barangsiapa yang berijtihad dan keliru maka dia mendapat satu pahala”.
Di dalam kaset Liqo’ Syarhy : 20 ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
Pertanyaan.
Fadhilatusy Syaikh ! Engkau telah mengetahui –semoga Allah Jalla Jalaluhu menjagamu- apa yang terjadi pada hari Rabu kemarin dari suatu peristiwa yang menewaskan dari 20 orang Yahudi di tangan salah seorang mujahidin Palestina, dia juga melukai sekitar 50 orang Yahudi. Seorang mujahidin ini meletekkan alat peledak di dalam tubuhnya, kemudian masuk di sebuah rombongan kendaraan mereka dan dia ledakkan, dia melakkan itu dengan sebab.
Pertama : Dia tahu bahwa kalau dia tidak terbunuh sekarang hari itu maka besoknya akan dibunuh, karena orang-orang Yahudi membunuh para pemuda muslim di sana dengan berencana.
Kedua : Para mujahidin ini melakukan hal itu karena membalas dendam terhadap orang-orang Yahudi yang telah membunuh orang-orang yang sholat di masjid Ibrahimy.
Ketiga : Mereka mengetahui bahwa orang-orang Yahudi dan Nahsara membuat rancangan untuk menghilangkan ruh jihad yang ada di Palestina.
Pertanyaan : Apakah perbuatan dia ini dianggap bunuh diri atau dianggap jihad? Apa nasihatmu dalam keadaan seperti ini, karena jika kami telah mengetahui bahwa perbuatan ini adalah perbuatan yang diharamkan maka semoga kami bisa menyampaikannya kepada saudara-saudara kami di sana, -Semoga Allah Jalla Jalaluhu memberikan taufiq kepadamu-?”
Jawaban.
Pemuda ini yang meletakkan bahan peledak di tubuhnya, pertama kali yang dia bunuh adalah dirinya. Tidak diragukan lagi bahwa dialah yang menyebabkan pembunuhan dirinya. Hal seperti ini tidak dibolehkan kecuali jika dapat mendatangkan maslahat yang besar dan manfaat yang agung kepada Islam, maka hal itu dibolehkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- telah memberikan nash pada masalah ini, membuat permisalan untuk hal ini dengan kisah seorang pemuda, seorang pemuda mukmin yang berada di suatu umat yang dipimpin oleh seorang raja yang musyrik dan kafir. Raja yang kafir dan musyrik ini membunuh pemuda yang beriman ini, dia berupaya berulang kali, dia lemparkan pemuda itu dari atas gunung, dia lemparkan pemuda itu ke lautan, tetapi setiap upaya pembunuhan -itu gagal karena Allah Jalla Jalaluhu selalu menyelamatkan pemuda itu, maka heranlah raja musyrik itu.
Suatu hari pemuda itu berkata kepada raja musyrik itu : “Apakah kamu ingin membunuhku ?” raja itu berkata : “Ya, tidaklah aku melakukan semua ini melainkan untuk membunuhmu”. Pemuda itu berkata : “Kumpulkan orang-orang di tanah lapang, kemudian ambillah satu panah dari tempat panahku, letakkanlah dia di busurnya, kemudian lepaskanlah kepadaku dan katakanlah: ”Dengan nama Allah Rabb pemuda ini”. Adalah penduduk raja ini jika menyebut mereka mengucapkan : Dengan nama raja, akan tetapi pemuda ini berkata kepada raja ini : Katakanlah : Dengan nama Allah Rabb pemuda ini.
Maka raja ini mengumpulkan orang-orang di satu tempat yang luas, kemudian dia mengambil sebuah anak panah dari tempat panah pemuda itu, dia letakkan di busurnya seraya mengatakan : Dengan nama Allah Jalla Jalaluhu Rabb pemuda ini. Dia lepaskan anak panah itu sampai mengenai pemuda itu dan matilah dia. Melihat kejadian itu berteriaklah semua orang : “Tuhan adalah Tuhan pemuda ini, Tuhan adalah Tuhan pemuda ini”. Dan mereka ingkari penuhanan raja yang musyrik ini. Mereka berkata : “Raja ini telah melakukan segala cara yang memungkinkan untuk membunuh pemuda ini, ternyata dia tidak mampu membunuhnya. Ketika dia mengucapkan satu kalimat : Dengan menyebut Allah Jalla Jalaluhu Rabb pemuda ini, dia bisa mati. Kalau demikian pengatur semua kejadian adalah Allah Jalla Jalaluhu, maka berimanlah semua manusia.
Syaikhul Islam berkata : Perbuatan pemuda ini mendatangkan manfaat yang besar bagi Islam.
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa yang menyebabkan kematian terbunuhnya pemuda ini adalah dia sendiri, tetapi dengan kematiannya didapatkan manfaat yang besar ; suatu umat beriman semuanya. Jika bisa didapatkan manfaat seperti ini maka dibolehkan bagi seseorang menebus agamanya dengan jiwanya. Adapun sekedar membunuh sepuluh atau dua puluh tanpa ada faidah, dan tanpa mengubah apapun maka perbuatan ini perlu dilihat lagi, bahkan hukumnya adalah haram, bisa jadi orang-orang Yahudi membalasnya dengan membunuh ratusan kaum muslimin.
Kesimpulannya bahwa perkara-perkara seperti ini membutuhkan fiqih dan tadabbur, dan melihat akibatnya, membutuhkan tarjih (penguatan) maslahat yang lebih tinggi dan menangkal mafsadah yang lebih besar, kemudian sesudah itu dipertimbangkan setiap keadaan dengan kadarnya”
[Koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 20-21]
[Disunting dari majalan Al-Furqon, edisi 3 Tahun IV, hal. 23-28, Judul BOM Syahid Atau Bunuh Diri, Penyusun Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jawa Timur]
----------------------------------------------------------------------------------
BOM SYAHID ATAU BOM BUNUH DIRI
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum syar’i bagi orang meletakkan bahan peledak di tubuhnya, kemudian dia ledakkan di antara komunitas orang-orang kafir untuk menewaskan mereka ? Apakah benar jika dia berdalil dengan kisah seorang pemuda yang hendak dibunuh oleh raja yang musyrik ?”
Jawaban
Orang yang meletakkan bahan peledak dalam tubuhnya dengan tujuan untuk meledakkannya bersama dirinya di komunitas musuh, adalah orang yang membunuh dirinya. Dia akan diadzab karena membunuh dirinya di neraka Jahannam kekal di dalamnya, sebagaimana telah tsabit hal itu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ancaman orang bunuh diri dengan sesuatu maka dia diadzab dengan sesuatu yang membunuhnya di neraka Jahannam”.
Alangkah aneh mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti ini, padahal mereka membaca firman Allah Jalla Jalaluhu.
“Artinya : Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu …”[An-Nisa : 29]
Kemudian mereka melakukan perbuatan itu, apakah mereka memetik sesuatu ? apakah musuh kalah?! Ataukah musuh semakin keras kepada mereka yang melakukan bom bunuh diri ini, sebagaimana hal ini terlihat di negeri Yahudi, dimana perbuatan seperti ini tidak menambah mereka kecuali mereka semakin gigih dengan kebrutalan mereka, bahkan kami dapati pooling terakhir dimenangkan oleh kelompok kanan yang ingin menghabiskan orang-orang Arab.
Akan tetapi barangsiapa yang melakukan hal ini dengan ijtihadnya menyangka bahwa ini adalah sarana pendekatan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu maka kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak menghukumnya ; karena dia seorang jahil yang mentakwil….
Adapun pendalilan dengan kisah pemuda ashabul ukhdud, maka kisah pemuda ini didapatkan darinya umat yang masuk Islam, tanpa menewaskan musuh, karena itu ketika raja mengumpulkan orang-orang, dan mengambil sebuah panah dari tempat panah pemuda seraya mengatakan : Dengan nama Allah Jalla Jalaluhu Tuhan pemuda ini, (hingga terbunuhlah pemuda itu) maka orang-orang semuanya berteriak : Tuhan yang benar adalah Tuhan pemuda ini. Maka dengan kematian pemuda ini didapatkan keislaman sebuah umat yang besar.
Seandainya hal seperti ini terjadi maka sungguh kami akan mengatakan bahwasanya di sana ada tempat untuk berdalil dengan kisah ini, dan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan kisah ini agar kita mengambil ibrah darinya. Tetapi orang yang meledakkan diri-diri mereka jika membunuh sepuluh atau seratus musuh, maka hal itu tidak menambah musuh kecuali semakin marah kepada kaum muslimin dan semakin gigih dengan apa keyakinan mereka.
[Majalah Al-Furqon Kuwait, edisi 79, hal.18-19 dan Koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 20]
[Disunting dari majalan Al-Furqon, edisi 3 Tahun IV, hal. 23-28, Judul BOM Syahid Atau Bunuh Diri, Penyusun Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jawa Timur]
APA HUKUM PERKATAAN FULAN SYAHID ?
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Apa hukum perkataan, 'Fulan Syahid ?'.
Jawaban.
Jawaban atas hal itu adalah bahwa seseorang dikatakan syahid itu dengan dua sisi yaitu :
Pertama.
Hendaknya terikat dengan suatu sifat, seperti : Dikatakan bahwa setiap orang yang dibunuh fisabillah adalah syahid, orang yang dibunuh karena membela hartanya adalah syahid, orang yang mati karena penyakit thaun adalah syahid dan yang semacamnya. Ini adalah boleh sebagai mana yang terdapat dalam nash, dan karena kamu menyaksikan dengan apa yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang kami maksud boleh adalah tidak dilarang. Jika menyaksikan hal itu, maka wajiblah membenarkan khabar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kedua.
Menentukan syahid bagi seseorang, seperti kamu mengatakan kepada seseorang, dengan menta'yin bahwa dia syahid. Ini tidak boleh kecuali yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau umat sepakat atas kesyahidannya. Al-Bukhari dalam menerangkan hal ini ia berkata : Bab. Tidak Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid. Ia berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman. 90, yaitu : Tidak Memvonis Syahid Kecuali Ada Wahyu. Seakan dia mengisyaratkan hadits Umar, bahwa beliau berkhutbah. "Dalam peperangan, kalian mengatakan bahwa si Fulan Syahid, dan si Fulan telah mati syahid. Mudah-mudahan perjalanannya tenang. Ketahuilah, janganlah kalian berkata demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : Barangsiapa mati di jalan Allah atau terbunuh maka ia syahid". Ini adalah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Sa'id bin Manshur dan lainnya dari jalur Muhammad bin Sirrin dan Abi Al-A'jafa' dari Umar.
Karena persaksian terhadap suatu hal yang tidak bisa kecuali dengan ilmu, sedang syarat orang menjadi mati syahid adalah karena ia berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Ini adalah niat batin yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda sebagai isyarat akan hal itu.
"Artinya : Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah, dan Allah lebih tahu siapa yang berjihad di jalan-Nya...." [Hadits Riwayat Bukhari : 2787]
Dan sabda beliau.
"Artinya : Demi Dzat diriku berada ditangan-Nya tidaklah seseorang terluka di jalan Allah kecuali datang dihari kiamat sedang lukanya mengalir darah, warnanya warna darah dan baunya bau Misk" [Hadits Riwayat Bukhari : 2803]
Akan tetapi orang yang secara dhahirnya baik, maka kami berharap dia syahid. Kami tidak bersaksi atas syahidnya dia dan juga tidak berburuk sangka kepadanya. Raja' (berharap) itu satu posisi di antara dua posisi (bersaksi dan buruk sangka), akan tetapi kita memperlakukannya di dunia dengan hukum-hukum syahid, jika ia terbunuh dalam jihad fi sabilillah. Ia dikubur dengan darah di bajunya tanpa menshalatinya. Dan untuk syuhada' yang lain, dimandikan, dikafani dan dishalati.
Karena, kalau kita bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid konsekwensinya adalah kita bersaksi bahwa ia masuk surga. Mereka tidak bersaksi atas seseorang dengan surga kecuali dengan sifat atau seseorang yang disaksikan oleh Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa boleh kita bersaksi atas syahidnya seseorang yang umat sepakat memujinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah termasuk yang berpendapat seperti ini.
Dengan ini, maka menjadi jelas bahwa kita tidak boleh bersaksi atas orang tertentu bahwa ia mati syahid kecuali dengan nash atau kesepakatan. Akan tetapi bila dhahirnya baik maka kita berharap demikian sebagaimana keterangan diatas, dan cukuplah nasihat tentang ini, sedangkan ilmunya ada di sisi Sang Pencipta.
[Disalin dari buku Majmu' Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Aqidah, hal. 208-210 Pustaka Arafah]
Posted by
Unknown
comments (0)
HUKUM PEMBOMAN DI NEGARA-NEGARA ISLAM DAN SEKITARNYA, APAKAH TERMASUK JIHAD FI SABILILLAH ?
Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
Pertanyaan.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : “Ahsanaallahu ilaikum” –semoga Allah menganugrahkan kebaikan kepada anda- apakah melakukan pembunuhan dan pemboman terhadap gedung-gedung milik negara/pemerintah di negara-negara kafir merupakan hal darurat dan bentuk jihad ?
Jawaban.
Pembunuhan dan pemboman merupakan hal yang tidak boleh, karena akan menimbulkan kejahatan, pembunuhan dan terjadinya pengusiran kaum muslimin, adapaun yang disyariatkan terhadap orang-orang kafir yaitu berperang fi sabilillah, menghadapi mereka dalam peperangan jika kaum muslimin memiliki persiapan pasukan, berperang dengan kaum kuffar, membunuh mereka seperti apa yang telah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berhijrah ke Madinah, hingga beliau mendapatkan penolong dan penyokong, adapun pemboman dan pembunuhan hanya akan mendatangkan keburukan bagi kaum muslimin.
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di Makkah sebelum hijrah, beliau diperintahkan agar menahan diri dari memerangi kaum kuffar.
“Artinya : Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka : ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang). Dirikanlah shalat dan tunaikan zakat” [An-Nisa’ : 77]
Beliau diperintahkan untuk menahan diri dari memerangi kaum kuffar karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki kekuatan untuk memerangi mereka, kalau kaum muslimin membunuh salah seorang dari kaum kuffar maka kaum kuffar yang lain akan menghabisi mereka karena kaum kuffar lebih kuat dari kaum muslimin dan kaum muslimin di bawah kekuasaan dan tekanan kaum kuffar.
Maka pembunuhan yang mengakibatkan terbunuhnya kaum muslimin yang bermukim di negara tempat mereka tinggal seperti yang terjadi sekarang bukanlah merupakan bentuk dakwah dan bukanlah sesuatu bentuk jihad fi sabilillah dan begitu juga pemboman ataupun pengrusakan. Hal ini hanya akan mendatangkan keburukan bagi kaum muslimin sebagaimana yang terjadi sekarang.
Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah dan ketika itu beliau memiliki pasukan dan kekuatan maka pada saat itu beliau diperintahkan untuk memerangi kaum kuffar. Tetapi apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau pada saat di Makkah sebelum hijrah melakukan perbuatan seperti ini (pembunuhan dan pengrusakan) ? Bahkan mereka menahan diri dari hal itu.
Apakah mereka melakukan pengrusakan terhadap harta kaum kuffar ketika mereka masih di Makkah ? Bahkan mereka menahan diri dari yang demikian.
Mereka hanya diperintahkan untuk berdakwah dan menyampaikan risalah pada saat di Makkah, tetapi ketika mereka telah berada di Madinah maka mereka berjihad dan berpegang teguh pada saat negara Islam telah berdiri.
[Disalin dari kitab Fatawa Al-Aimmah Fil An-Nawazil Al-Mudlahimmah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Seputar Terorisme, Penyusun Muhammad bin Husain bin Said Ali Sufran Al-Qathani, Terbitan Pustaka At-Tazkia]
Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
Pertanyaan.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : “Ahsanaallahu ilaikum” –semoga Allah menganugrahkan kebaikan kepada anda- apakah melakukan pembunuhan dan pemboman terhadap gedung-gedung milik negara/pemerintah di negara-negara kafir merupakan hal darurat dan bentuk jihad ?
Jawaban.
Pembunuhan dan pemboman merupakan hal yang tidak boleh, karena akan menimbulkan kejahatan, pembunuhan dan terjadinya pengusiran kaum muslimin, adapaun yang disyariatkan terhadap orang-orang kafir yaitu berperang fi sabilillah, menghadapi mereka dalam peperangan jika kaum muslimin memiliki persiapan pasukan, berperang dengan kaum kuffar, membunuh mereka seperti apa yang telah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berhijrah ke Madinah, hingga beliau mendapatkan penolong dan penyokong, adapun pemboman dan pembunuhan hanya akan mendatangkan keburukan bagi kaum muslimin.
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di Makkah sebelum hijrah, beliau diperintahkan agar menahan diri dari memerangi kaum kuffar.
“Artinya : Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka : ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang). Dirikanlah shalat dan tunaikan zakat” [An-Nisa’ : 77]
Beliau diperintahkan untuk menahan diri dari memerangi kaum kuffar karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki kekuatan untuk memerangi mereka, kalau kaum muslimin membunuh salah seorang dari kaum kuffar maka kaum kuffar yang lain akan menghabisi mereka karena kaum kuffar lebih kuat dari kaum muslimin dan kaum muslimin di bawah kekuasaan dan tekanan kaum kuffar.
Maka pembunuhan yang mengakibatkan terbunuhnya kaum muslimin yang bermukim di negara tempat mereka tinggal seperti yang terjadi sekarang bukanlah merupakan bentuk dakwah dan bukanlah sesuatu bentuk jihad fi sabilillah dan begitu juga pemboman ataupun pengrusakan. Hal ini hanya akan mendatangkan keburukan bagi kaum muslimin sebagaimana yang terjadi sekarang.
Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah dan ketika itu beliau memiliki pasukan dan kekuatan maka pada saat itu beliau diperintahkan untuk memerangi kaum kuffar. Tetapi apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau pada saat di Makkah sebelum hijrah melakukan perbuatan seperti ini (pembunuhan dan pengrusakan) ? Bahkan mereka menahan diri dari hal itu.
Apakah mereka melakukan pengrusakan terhadap harta kaum kuffar ketika mereka masih di Makkah ? Bahkan mereka menahan diri dari yang demikian.
Mereka hanya diperintahkan untuk berdakwah dan menyampaikan risalah pada saat di Makkah, tetapi ketika mereka telah berada di Madinah maka mereka berjihad dan berpegang teguh pada saat negara Islam telah berdiri.
[Disalin dari kitab Fatawa Al-Aimmah Fil An-Nawazil Al-Mudlahimmah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Seputar Terorisme, Penyusun Muhammad bin Husain bin Said Ali Sufran Al-Qathani, Terbitan Pustaka At-Tazkia]
Posted by
Unknown
comments (0)
BAB 32
"TAKUT KEPADA ALLAH"
Kitab tauhid karangan syekh muhammad bin abdul wahab.
Firman Allah :
إنما ذلكم الشيطان يخوف أولياءه، فلا تخافوهم وخافوني إن كنتم مؤمنين
“Sesungguhnya mereka itu tiada lain hanyalah syaitan yang menakut-nakutkan (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik ) karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu saja, jika kamu benar-benar orang yang beriman” ( QS. Ali Imran, 175).
إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر وأقام الصلاة وآتى الزكاة ولم يخش إلا الله فعسى أولئك أن يكونوا من المهتدين .
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan sholat, membayar zakat, dan tidak takut ( kepada siapapun) selain kepada Allah ( saja ), maka mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” ( QS. At Taubah, 18 ).
ومن الناس من يقول آمنا بالله فإذا أوذي في الله جعل فتنة الناس كعذاب الله ولئن جاء نصر من ربك ليقولن إنا كنا معكم أوليس الله بأعلم بما في صدور العالمين
“Dan diantara manusia ada yang berkata : kami beriman kepada Allah, tetapi apabila ia mendapat perlakuan yang menyakitkan kerana (imannya kepada) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai adzab Allah, dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata :“Sesungguhnya kami besertamu” bukankah Allah mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia ?” (QS. Al ankabut, 10 ).
Diriwayatkan dalam hadits marfu’ dari Abu Said , Rasulullah saw bersabda :
" إن من ضعف اليقين أن ترضي الناس بسخط الله، وأن تحمدهم على رزق الله، وأن تذمهن على ما لم يؤتك الله، إن رزق الله لا يجره حرص حريص، ولا يرده كراهية كاره".
“Sesungguhnya termasuk lemahnya keyakinan adalah jika kamu mencari ridha manusia dengan mendapat kemurkaan Allah, dan memuji mereka atas rezki yang Allah berikan lewat perantaraannya, dan mencela mereka atas dasar sesuatu yang belum diberikan Allah kepadamu melalui mereka, ingat sesungguhnya rizki Allah tidak dapat didatangkan oleh ketamakan orang yang tamak, dan tidak pula dapat digagalkan oleh kebenciannya orang yang membenci”.
Diriwayatkan dari Aisyah, ra. Bahwa Rasulullah saw bersabda :
" من التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس " رواه ابن حبان في صحيحه.
“Barangsiapa yang mencari Ridla Allah sekalipun dengan resiko mendapatkan kemarahan manusia, maka Allah akan meridhainya, dan akan menjadikan manusia ridha kepadanya, dan barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya, dan akan menjadikan manusia murka pula kepadanya”
(HR. Ibnu Hibban dalam kitab shohehnya ).
Kandungan bab ini :
1-Penjelasan tentang ayat dalam surat Ali Imran ( ).
2-Penjelasan tentang ayat dalam surat At Taubah ( ).
3-Penjelasan tentang ayat dalam surat Al ‘Ankabut ( ).
4-Keyakinan itu bisa menguat dan bisa melemah.
5-Tanda-tanda melemahnya keyakinan antara lain tiga perkara yang disebutkan dalam hadits Abu Said diatas.
6-Memurnikan rasa takut hanya kepada Allah adalah termasuk kewajiban.
7-Adanya pahala bagi orang yang melakukannya.
8-Adanya ancaman bagi orang yang meninggalkannya.
Posted by
Unknown
comments (0)
Tazkirah alfikirummat.blogspot.com
Khutbah Jumaat
Di antara sifat orang-orang yang beriman dan mendapat petunjuk daripada al-Quran ialah percaya kepada perkara-perkara ghaib. Firman Allah dari Surah al-Baqarah Ayat 2 yang bermaksud: "Iaitu orang-orang yang beriman kepada perkara yang ghaib, dan mendirikan sembahyang serta membelanjakan sebahagian dari rezeki yang kami kurniakan kepada mereka."
Muslimin sidang Jumaat sekalian!
Di antara perkara ghaib yang wajib ke atas setiap orang yang beriman yakin dan percaya kepadanya ialah adanya dosa dan pahala yang dijanjikan oleh Allah. Kita juga sudah maklum bahawa pahala ialah ganjaran daripada Allah bagi setiap muslim yang patuh kepada perintah-Nya dengan melakukannya menurut cara yang telah diperintahnya dan ditentukan oleh Allah secara ikhlas.
Dosa pula akan dikenakan kepada sesiapa sahaja yang melanggar perintah Allah termasuk melakukan perintah Allah tidak mengikut cara yang telah ditetapkan olehnya. Maka setiap orang yang beriman hendaklah melakukan ibadat dan semua suruhan Allah dengan ikhlas di samping menjaga tata tertib yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam dan meninggalkan segala larangannya. Semuanya hendaklah dilakukan semata-mata untuk mendapat keredhaan Allah.
Muslimin sekalian!
Akhir-akhir ini ada usaha untuk memesongkan aqidah umat Islam dengan cara halus dan membahayakan apabila terdengar suara-suara yang mengajak umat Islam agar tidak lagi menghiraukan dosa dan pahala. Kata mereka:
"Jika berbuat kebajikan, belum pasti dapat pahala." Kata mereka lagi: "Jangan
merasuah umat Islam dengan pahala." Sedangkan pahala yang disebut itu memang sudah dijanjikan oleh Allah di dalam al-Quran dan oleh Rasulullah S.A.W. Allah menjanjikan pahala kepada sesiapa yang taat kepadanya sebagaimana firman-Nya dari Surah al-Maidah Ayat 9 yang bermaksud: "Dan Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal soleh bahawa bagi mereka keampunan dan pahala yang besar."
Oleh itu, yang mendorong kita mengerjakan sembahyang fardhu secara berjemaah, adalah kerana yakin dengan pahala 27 kali ganda berbanding dengan sembahyang seorang diri sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah S.A.W. kepada kita.
Yang mendorong kita menafkahkan harta dan kekayaan pada jalan Allah adalah untuk mendapat pahala dan ganjaran daripada Allah kerana janji Allah di dalam al-Quran dari Surah al-Baqarah Ayat 261 yang bermaksud:
"Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah seperti sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkainya ada seratus biji dan (ingatlah) Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakinya, dan Allah amat luas (rahmat) kurnianya, lagi meliputi ilmu pengetahuannya."
Kemudian, yang mendorong kita berjihad menegakkan agama Allah dan syariatnya agar tegak memerintah dan mentadbir bumi ini dengan keadilan dan keamanan, adalah untuk mendapat ganjaran yang tidak terkira daripada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam al-Quran dari Surah As-Saff Ayat 10-12 yang bermaksud: "Wahai orang-orang yang beriman, mahukah aku tunjukkan kepada kamu satu perniagaan yang menyelamatkan kamu daripada seksaan
yang pedih (dalam neraka)?
Iaitu (dengan) kamu beriman kepada Allah dan Rasulnya, dan kamu berjihad pada jalan Allah dengan harta kamu dan diri kamu. Itulah yang paling baik bagi kamu sekiranya kamu mengetahui. Nescaya dia (Allah) mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘Adnin. Itulah kemenangan yang besar."
Muslimin sekalian,
Di antara banyak janji pahala yang datang daripada Allah dan Rasulnya seperti janji pahala daripada ibadat sembahyang, puasa, zakat, haji dan lain-lain, yang paling tidak disenangi oleh sesetengah mereka yang tidak faham Islam dan perjuangan Islam ialah janji pahala bagi orang-orang yang berjihad pada jalan Allah. Kita sebagai orang-orang Islam perlu menyedari bahawa sebesar-besar perjuangan di atas muka bumi ini ialah perjuangan mengembangkan
agama Allah, iaitu Islam, supaya ianya tegak memerintah dan semua manusia tunduk di bawah kekuasaannya. Ia adalah satu cabang jihad, dan cabang inilah yang besar sekali ganjarannya.
Sejarah Islam bermula daripada sejarah para Rasul dan sahabat yang penuh dengan kisah pertentangan dakwah Islam dengan pemerintah dan kuasa kerajaan jahiliyah, kufur dan mengaku berkuasa seperti tuhan.
Nabi Ibrahim a.s. berhadapan dengan Raja Namrud, Nabi Musa berhadapan dengan Raja
Firaun dan nabi kita Muhammad S.A.W. berhadapan dengan pemimpin-pemimpin jahiliyah Makkah. Bukan sahaja Rasul-rasul tersebut menyeru umat mereka menyembah Allah dan beribadat hanya kepadanya, raja-raja dan pemerintah pada masa itu juga diajak tunduk kepada peraturan Allah.
Akibatnya Nabi Ibrahim dibakar di dalam api yang bernyala, Nabi Musa dan kaumnya
lari meninggalkan negeri Mesir yang diperintah oleh Firaun dan Nabi Muhammad S.A.W. terpaksa berhijrah meninggalkan negeri Makkah menuju ke Madinah.
Sebenarnya ajaran Islam terkandung di dalam kalimah "Lailahaillallah" (tidak ada Tuhan melainkan Allah), di dalam erti kata yang sebenarnya: bererti tunduk dan patuh hanya kepada Allah. Oleh itu, apabila kalimah "Lailahaillallah" dibaca oleh Rasulullah S.A.W. kepada seorang Arab Badwi yang fasih berbahasa Arab dan mengetahui selok belok maksudnya, telah berkata kepada Rasulullah S.A.W. yang bermaksud: "Ini satu kalimah yang tidak disenangi oleh
sekalian raja-raja, engkau akan diperangi oleh bangsa Arab dan bukan Arab."
Muslimin sekalian!
Oleh itu mereka yang tidak suka kepada perkembangan Islam, dan tidak suka Islam diamalkan secara menyeluruh, telah menyelar orang-orang yang mahu mengajak umat Islam kembali semula kepada ajaran Islam di dalam erti kata yang sebenar. Berbagai tekanan dan halangan serta tindakan undang-undang dilakukan untuk menghalang perkembangan dakwah Islam, namun perjuangan Islam terus maju ke hadapan dan tetap ada orang-orang yang memperjuangkannya. Sabda Rasulullah S.A.W. dari Riwayat Abu Hurairah yang bermaksud: "Akan sentiasa ada satu golongan daripada umatku yang tetap berada di atas kebenaran. Mereka tidak berjaya dihalang oleh orang-orang yang menentang mereka, sehingga datang hukuman daripada Allah."
Semakin ditekan, perjuangan Islam semakin subur. Semakin dihalang, pejuang Islam semakin yakin kepada janji pahala dan ganjaran syurga. Maka usaha seterusnya daripada mereka yang tidak suka kepada perjuangan Islam ialah menghalang umat Islam daripada menyebut pahala dan janji Allah, kerana makin dibicarakan tentang pahala, makin bersemangat orang-orang yang mahu kepada Islam. Oleh itu, mereka yang cuba menyekat kesedaran Islam, menaruh harapan, bahawa dengan menghalang daripada dibincangkan tentang pahala, nanti akan menyebabkan umat Islam malas untuk beramal dengan ajaran Islam, termasuklah pahala besar yang dijanjikan bagi sesiapa yang berjihad memperjuangkan Islam. Seterusnya dapat menanam benih-benih keraguan tentang satu perkara ghaib yang mampu mengembalikan semangat dan keyakinan di dalam hati umat Islam iaitu percaya kepada adanya dosa dan pahala, yang membawa kepada percaya adanya syurga dan neraka.
Marilah kita membenarkan semua janji Allah dan Rasulnya termasuklah janji pahala dan syurga, kita lebih yakin dan bersemangat serta beristiqamah berpegang dengan ajaran Islam.
Firman Allah dari Surah Al-Zalzalah ayat 7-8 yang bermaksud: "Dan sesiapa yang melakukan sebesar zarah yang halus daripada kebajikan, nescaya akan dilihatnya (pada hari akhirat), dan sesiapa yang melakukan kejahatan sebesar zarah yang halus daripada kejahatan nescaya akan dilihatnya juga (pada hari akhirat)."
Khutbah Jumaat
Di antara sifat orang-orang yang beriman dan mendapat petunjuk daripada al-Quran ialah percaya kepada perkara-perkara ghaib. Firman Allah dari Surah al-Baqarah Ayat 2 yang bermaksud: "Iaitu orang-orang yang beriman kepada perkara yang ghaib, dan mendirikan sembahyang serta membelanjakan sebahagian dari rezeki yang kami kurniakan kepada mereka."
Muslimin sidang Jumaat sekalian!
Di antara perkara ghaib yang wajib ke atas setiap orang yang beriman yakin dan percaya kepadanya ialah adanya dosa dan pahala yang dijanjikan oleh Allah. Kita juga sudah maklum bahawa pahala ialah ganjaran daripada Allah bagi setiap muslim yang patuh kepada perintah-Nya dengan melakukannya menurut cara yang telah diperintahnya dan ditentukan oleh Allah secara ikhlas.
Dosa pula akan dikenakan kepada sesiapa sahaja yang melanggar perintah Allah termasuk melakukan perintah Allah tidak mengikut cara yang telah ditetapkan olehnya. Maka setiap orang yang beriman hendaklah melakukan ibadat dan semua suruhan Allah dengan ikhlas di samping menjaga tata tertib yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam dan meninggalkan segala larangannya. Semuanya hendaklah dilakukan semata-mata untuk mendapat keredhaan Allah.
Muslimin sekalian!
Akhir-akhir ini ada usaha untuk memesongkan aqidah umat Islam dengan cara halus dan membahayakan apabila terdengar suara-suara yang mengajak umat Islam agar tidak lagi menghiraukan dosa dan pahala. Kata mereka:
"Jika berbuat kebajikan, belum pasti dapat pahala." Kata mereka lagi: "Jangan
merasuah umat Islam dengan pahala." Sedangkan pahala yang disebut itu memang sudah dijanjikan oleh Allah di dalam al-Quran dan oleh Rasulullah S.A.W. Allah menjanjikan pahala kepada sesiapa yang taat kepadanya sebagaimana firman-Nya dari Surah al-Maidah Ayat 9 yang bermaksud: "Dan Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal soleh bahawa bagi mereka keampunan dan pahala yang besar."
Oleh itu, yang mendorong kita mengerjakan sembahyang fardhu secara berjemaah, adalah kerana yakin dengan pahala 27 kali ganda berbanding dengan sembahyang seorang diri sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah S.A.W. kepada kita.
Yang mendorong kita menafkahkan harta dan kekayaan pada jalan Allah adalah untuk mendapat pahala dan ganjaran daripada Allah kerana janji Allah di dalam al-Quran dari Surah al-Baqarah Ayat 261 yang bermaksud:
"Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah seperti sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkainya ada seratus biji dan (ingatlah) Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakinya, dan Allah amat luas (rahmat) kurnianya, lagi meliputi ilmu pengetahuannya."
Kemudian, yang mendorong kita berjihad menegakkan agama Allah dan syariatnya agar tegak memerintah dan mentadbir bumi ini dengan keadilan dan keamanan, adalah untuk mendapat ganjaran yang tidak terkira daripada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam al-Quran dari Surah As-Saff Ayat 10-12 yang bermaksud: "Wahai orang-orang yang beriman, mahukah aku tunjukkan kepada kamu satu perniagaan yang menyelamatkan kamu daripada seksaan
yang pedih (dalam neraka)?
Iaitu (dengan) kamu beriman kepada Allah dan Rasulnya, dan kamu berjihad pada jalan Allah dengan harta kamu dan diri kamu. Itulah yang paling baik bagi kamu sekiranya kamu mengetahui. Nescaya dia (Allah) mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘Adnin. Itulah kemenangan yang besar."
Muslimin sekalian,
Di antara banyak janji pahala yang datang daripada Allah dan Rasulnya seperti janji pahala daripada ibadat sembahyang, puasa, zakat, haji dan lain-lain, yang paling tidak disenangi oleh sesetengah mereka yang tidak faham Islam dan perjuangan Islam ialah janji pahala bagi orang-orang yang berjihad pada jalan Allah. Kita sebagai orang-orang Islam perlu menyedari bahawa sebesar-besar perjuangan di atas muka bumi ini ialah perjuangan mengembangkan
agama Allah, iaitu Islam, supaya ianya tegak memerintah dan semua manusia tunduk di bawah kekuasaannya. Ia adalah satu cabang jihad, dan cabang inilah yang besar sekali ganjarannya.
Sejarah Islam bermula daripada sejarah para Rasul dan sahabat yang penuh dengan kisah pertentangan dakwah Islam dengan pemerintah dan kuasa kerajaan jahiliyah, kufur dan mengaku berkuasa seperti tuhan.
Nabi Ibrahim a.s. berhadapan dengan Raja Namrud, Nabi Musa berhadapan dengan Raja
Firaun dan nabi kita Muhammad S.A.W. berhadapan dengan pemimpin-pemimpin jahiliyah Makkah. Bukan sahaja Rasul-rasul tersebut menyeru umat mereka menyembah Allah dan beribadat hanya kepadanya, raja-raja dan pemerintah pada masa itu juga diajak tunduk kepada peraturan Allah.
Akibatnya Nabi Ibrahim dibakar di dalam api yang bernyala, Nabi Musa dan kaumnya
lari meninggalkan negeri Mesir yang diperintah oleh Firaun dan Nabi Muhammad S.A.W. terpaksa berhijrah meninggalkan negeri Makkah menuju ke Madinah.
Sebenarnya ajaran Islam terkandung di dalam kalimah "Lailahaillallah" (tidak ada Tuhan melainkan Allah), di dalam erti kata yang sebenarnya: bererti tunduk dan patuh hanya kepada Allah. Oleh itu, apabila kalimah "Lailahaillallah" dibaca oleh Rasulullah S.A.W. kepada seorang Arab Badwi yang fasih berbahasa Arab dan mengetahui selok belok maksudnya, telah berkata kepada Rasulullah S.A.W. yang bermaksud: "Ini satu kalimah yang tidak disenangi oleh
sekalian raja-raja, engkau akan diperangi oleh bangsa Arab dan bukan Arab."
Muslimin sekalian!
Oleh itu mereka yang tidak suka kepada perkembangan Islam, dan tidak suka Islam diamalkan secara menyeluruh, telah menyelar orang-orang yang mahu mengajak umat Islam kembali semula kepada ajaran Islam di dalam erti kata yang sebenar. Berbagai tekanan dan halangan serta tindakan undang-undang dilakukan untuk menghalang perkembangan dakwah Islam, namun perjuangan Islam terus maju ke hadapan dan tetap ada orang-orang yang memperjuangkannya. Sabda Rasulullah S.A.W. dari Riwayat Abu Hurairah yang bermaksud: "Akan sentiasa ada satu golongan daripada umatku yang tetap berada di atas kebenaran. Mereka tidak berjaya dihalang oleh orang-orang yang menentang mereka, sehingga datang hukuman daripada Allah."
Semakin ditekan, perjuangan Islam semakin subur. Semakin dihalang, pejuang Islam semakin yakin kepada janji pahala dan ganjaran syurga. Maka usaha seterusnya daripada mereka yang tidak suka kepada perjuangan Islam ialah menghalang umat Islam daripada menyebut pahala dan janji Allah, kerana makin dibicarakan tentang pahala, makin bersemangat orang-orang yang mahu kepada Islam. Oleh itu, mereka yang cuba menyekat kesedaran Islam, menaruh harapan, bahawa dengan menghalang daripada dibincangkan tentang pahala, nanti akan menyebabkan umat Islam malas untuk beramal dengan ajaran Islam, termasuklah pahala besar yang dijanjikan bagi sesiapa yang berjihad memperjuangkan Islam. Seterusnya dapat menanam benih-benih keraguan tentang satu perkara ghaib yang mampu mengembalikan semangat dan keyakinan di dalam hati umat Islam iaitu percaya kepada adanya dosa dan pahala, yang membawa kepada percaya adanya syurga dan neraka.
Marilah kita membenarkan semua janji Allah dan Rasulnya termasuklah janji pahala dan syurga, kita lebih yakin dan bersemangat serta beristiqamah berpegang dengan ajaran Islam.
Firman Allah dari Surah Al-Zalzalah ayat 7-8 yang bermaksud: "Dan sesiapa yang melakukan sebesar zarah yang halus daripada kebajikan, nescaya akan dilihatnya (pada hari akhirat), dan sesiapa yang melakukan kejahatan sebesar zarah yang halus daripada kejahatan nescaya akan dilihatnya juga (pada hari akhirat)."
Posted by
Unknown
comments (0)
ORANG MUKMIN TERCIPTA PENUH COBAIndonesia versi
Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halaby
Kata Pengantar
Dalam kesempatan kali ini kami hadirkan ke hadapan pembaca, uraian yang sangat bagus sekali dari seorang tokoh 'alim Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halaby mengenai sifat-sifat seorang mukmin. Tulisan ini diterjemahkan dari Majalah Al-Ashalah edisi 15, 16 th III -15 Dzul Qa'dah 1415H, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 07/th III/1419-1998.
__________________________
Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan (penuh cobaan), Tawwab (senang bertaubat), dan Nassaa' (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat". [Silsilah Hadits Shahih No. 2276].
Hadist ini merupakan hadits yang menjelaskan sifat-sifat orang mukmin, sifat-sifat yang senantiasa lengket dan menyatu dengan diri mereka, tiada pernah lepas hingga seolah-olah pakaian yang selalu menempel pada tubuh mereka dan tidak pernah terjauhkan dari mereka.
Mufattan
Artinya : "Orang yang diuji (diberi cobaan) dan banyak ditimpa fitnah. Maksudnya : (orang mukmin) adalah orang yang waktu demi waktu selalu diuji oleh Allah dengan balaa' (bencana) dan dosa-dosa". [Faid-Qadir 5/491].
Dalam hal ini fitnah (cobaan) itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabb-nya.
Menurut sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus". [Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027].
Ya, demikianlah sifat seorang mukmin dengan keimanannya yang benar, dengan tauhidnya yang bersih dan dengan sikap iltizam (komitment)nya yang sungguh-sungguh.
Tawaab Nasiyy
Artinya : "Orang yang bertaubat kemudian lupa, kemudian ingat, kemudian bertaubat". [Faid-Al Qadir 5/491].
Seorang mukmin dengan taubatnya, berarti telah mewujudkan makna salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu sifat yang terkandung dalam nama-Nya : Al-Ghaffar (Dzat yang Maha Pengampun). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar". [Thaha : 82].
Apabila Diingatkan, Ia Segera Ingat.
Artinya : "Bila diingatkan tentang ketaatan, ia segera bergegas melompat kepadanya, bila diingatkan tentang kemaksiatan, ia segera bertaubat daripadanya, bila diingatkan tentang kebenaran, ia segera melaksanakannya, dan bila diingatkan tentang kesalahan ia segera menjauhi dan meninggalkannya".
Ia tidak sombong, tidak besar kepala, tidak congkak dan tidak tinggi hati, tetapi ia rendah hati kepada saudara-saudaranya, lemah lembut kepada sahabat-sahabatnya dan ramah tamah kepada teman-temannya, sebab ia tahu inilah jalan Ahlul Haq (pengikut kebenaran) dan jalannya kaum mukminin yang shalihin.
Terhadap dirinya sendiri ia berbatin jujur serta berpenampilan luhur, sedangkan terhadap orang lain ia berperasaan lembut dan berahlak mulia, bersuri tauladan kepada insan teladan paling sempurna yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang telah diberi wasiat oleh Rabb-nya dengan firman-Nya :
"Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka .....". [Ali Imran : 159]
Inilah sifat seorang mukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj perilakunya.
[Disalin dari Majalah Al-Ashalah edisi 15, 16 th III -15 Dzul Qa'dah 1415H, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 07/th III/1419-1998]
Posted by
Unknown
comments (0)
Peringatan Buat Saudariku...... Saudariku.....
Sesungguhnya kejadianmu terlalu unik,
tercipta dari tulang rusuk Adam yang bengkok
menghiasai taman-taman indah lantas menjadi perhatian
sang kumbang. Kau umpama sekuntum bunga , harum
aromamu bisa menarik perhatian sang kumbang untuk
mendekatimu; namun...... tidak semua bunga senang
untuk didekati oleh sang kumbang lantaran duri yang
memagari dirinya umpama mawar , dari kejauhan sudah
terhidu akan keharumannya serta kilauan warnanya yang
memancar indah mengundang kekaguman terhadap sang
kumbang ....... tapi awas duri yang melingkari bisa
membuatkan sang kumbang berfikir beberapa kali untuk
mendekatinya......
Saudariku.....
Aku suka sekiranya kau seperti mawar
aspirasi setiap mujahidah.Bentengilah dirimu dengan
perasaan malu yang bertunjangkan rasa keimanan dan
keindahan taqwa kepada Allah... Hiasilah wajah mu
dengan titisan wudhuk ..... ingatlah bahawa ciri-ciri
seorang wanita solehah ialah
ia tidak melihat kepada lelaki dan lelaki tidak
melihat kepadanya. Sesuatu yang tertutup itu lebih
berharga dibandingkan dengan sesuatu yang
terdedah ...... umpama
sebutir permata yang didedahkan buat perhatian umum
dengan permata yang diletakkan dalam satu bekas yang tertutup
.....sudah pastinya keinginan untuk melihat permata
yang tersembunyi itu melebihi daripada yang terdedah,
wanita solehah yang taat dan patuh pada Al Khaliq
dalam melayari liku-liku kehidupannya
adalah harapan setiap insan
yang bernama Adam......
Namun ............. ianya memerlukan pengorbanan dan
mujahadah yang tinggi kerana ianya bercanggah dengan
nafsu serakah yang bersarang dalam dirimu lebih-lebih
lagi title gadis yang kau miliki sudah pastinya darah
mudamu mencabar rasa keimanan yang ada ...
sesiapa yang inginkan kebaikan
maka Allah akan memudahkan baginya
jalan-jalan kearah itu, yang penting saudariku engkau
mesti punyai azam , usaha dan istiqomah..........
Saudariku.....
Akuilah hakikat dirimu menjadi fitnah
kepada kebanyakan lelaki...Seandainya pakaian malumu
kau tanggalkan dari tubuhmu maka sudah tidak ada lagi
perisai yang dapat membentengimu...Sesungguhnya nabi
ada mengatakan tentang bahaya dirimu, " Tidak ada suatu
fitnah yang lebih besar yang lebih bermaharajalela
selepas wafatku terhadap kaum lelaki selain fitnah
yang berpunca daripada wanita"………….
Oleh itu saudariku setiap langkah dan tindakanmu
hendaklah berpaksikan kepada Al Quran dan As Sunnah,
jangan biarkan orang lain mengeksploitasikan dirimu
untuk kepentingan tertentu..... Sesungguhnya Allah
telah mengangkat martabatmu sebaris dengan kaum Adam.
Kau harapan ummah dalam melahirkan para mujahid dan
mujahidah yang bisa menggoncangkan dunia dengan
sentuhan lembut tangan mu.....
Saudariku...
Dalam hidupmu pastinya ingin disayangi
dan menyayangi,itulah fitrah semulajadi setiap insani
namun ramai di antara kamu yang tewas kerana cinta...
Bercinta itu tidak salah tapi memuja cinta itu yang
salah, kerana cinta manusia sanggup menjual agama dan
kerana cinta maruah tergadai. Gejala murtad serta
keruntuhan moral muda mudi sebahagian besarnya
kerana sebuah cinta...
Benarlah kata-kata "Sesungguhnya cinta itu buta"
cinta itu mampu membutakan mata dan hatimu dalam
membezakan perkara yang hak dan yang batil apabila kau
meletakkan cinta itu atas dasar nafsu dan tidak kerana
Allah SWT... Sebelum kau mendekati cinta ,
Cintailah dirimu terlebih dahulu ,
mengka***** hakikat kejadianmu yang begitu simbolik ,
yang berasal daripada setitis air yang tak berharga lalu
mengalami proses pembentukan yang direncanakan oleh
Allah..
Semoga di sana mampu melahirkan rasa keagungan dan
kehebatan terhadapNya dan timbul rasa cinta dan kasih
pada penciptamu............
Saudariku... Mencintai Allah dan rasul melebihi
cinta terhadap makhluk adalah cinta yang hakiki dan
abadi kerana hati yang pecah dan retak apabila
diberikan kepada makhluk pastinya akan bertambah retak
dan terburai tapi apabila hatimu diserah kepada Allah
sudah pasti ia akan bertaut kembali.. Dalam seusia mu
sibukkan lah dirimu dengan ilmu yang mampu
mempertajamkan akal dan mampu membina syakhsiah
muslimahmu.....
Sesungguhnya ilmu itu cahaya dan ilmu tidak mampu
bertapak dalam hati orang yang melakukan maksiat.
Buat akhirnya terimalah kata-kata seorang ahli sufi
iaitu Rabiatul Adawiah sebagai renungan bersama :
"Cintakan manusia itu tidak mewujudkan kebahagian yang
abadi untuk seseorang insan , kerana ia tidak kekal ,
cintakan manusia seringkali membuatkan seorang itu
gagal , kecewa , menderita dan terseksa, oleh itu
tidak ada suatu cinta pun yang dapat membuahkan
kebahagiaan dan kenikmatan yang kekal
abadi kecuali cinta kepada pencipta manusia itu sendiri."
"ANTARA TANDA KEBERKATAN SESEORANG WANITA ITU IALAH,
CEPAT PERKAHWINANNYA,CEPAT PULA KEHAMILANNYA DAN RINGAN
MAHARNYA......"
-candyflower -
Posted by
Unknown
comments (0)
Anak. Kelahiran yang dinanti oleh setiap insan yang berkeluarga. Kehadirannya memberikan sejuta rasa yang tak mampu diungkapkan dengan madah dan bicara. Penjagaan rapi telah diberi sejak di awal usia kehamilan. Itulah barakah. Nyawa yang mampu mengubati segala kesakitan. Pahit dirasakan manis.
Sesungguhnya di dalam perut ibu kita membesar. Dari sekecil zarah hingga sebesar 3-4 kg. Bagaimana ibu menjaga kita dari usia sehari sehingga di usia sembilan bulan. Dari badan ibu yang kecil molek sehingga membesar dan mengembang dan mengubah fizikal tubuh ibu. Ibu tak pernah peduli apa yang akan terjadi pada diri tetapi yang difikirkan hanya apa yang akan terjadi pada bayi. Lihatlah pengorbanan ibu. Bila menangis, kita cari mak. Bangun tidur, kita cari mak, Bila nak makan, kita cari mak. Bila nak duit, kita cari mak. Semuanya mak, mak, mak....
Kalau nak dicerita tentang pengorbanan ibu rasanya semua dah sedia maklum. Tapi berapa ramai yang tahu menjaga hati ibu? Membantah, membangkang, menarik muka masam, melawan kata-kata ibu. 'Ibu tiada hak mencampuri urusan anak', 'Ibu tak belajar tinggi-tinggi, mana ibu tahu', dan macam-macam lagi lah ayat-ayat pedas yang mampu meruntum hati ibu. Wajarkah dilakukan semua ini?
"Kami perintahkan kepada manusia supaya mereka berbuat baik kepada ibu dan bapanya. Ibu mengandungkannya dalam keadaan lemah yang semakin lama semakin bertambah dan menyusuinya hingga dia berusia dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua ibu bapamu dan hanya kepada Akulah engkau kembali" (Surah Lukman: ayat 14)
Janganlah disakiti hati ibu walau sebesar zarah sekalipun. Renungkanlah, setitik air mata ibu yang jatuh mengalir, besar dosa yang terpaksa kita tanggung. Sanggupkah kita melihat air mata ibu tumpah di pipi? Ibu, doanya amat dimakbulkan. Keredhaannya mendatangkan keberkatan. Hidup pasti tiada tenangnya andai si anak merobek hati ibunya. Hidup si anak akan goyah kerana doa ibu dapat menghancurkan masa depan anaknya yang derhaka.
Didiklah hati agar peribadi kita disenangi oleh ibu. Jagalah hati ibu kerana kita hanya ada seorang sahaja ibu di mukabumi ini. Seorang ibu mampu menjaga dan melahirkan kita, kenapa kita tak mampu menjaga sekeping hatinya? Sempena Hari Ibu ini, saya mengharapkan semua anak-anak sentiasa menghargai dan mengasihi ibunya. Luahkanlah kata-kata cintamu pada ibumu dengan sebenar-benar sayang. Ibulah tempat kita bermanja dan dari rahimnya lah kita mengenal dunia.
Terima kasih mak, sebab melahirkan aku..
Terima kasih mak sebab dah membesarkan aku..
Terima kasih mak sebab dah mendewasakan aku..
Terima kasih mak sebab sentiasa bersabar dengan perangai aku..
Terima kasih mak sebab sentiasa berada di sampingku..
Terima kasih mak sebab sentiasa memarahiku..
Terima kasih mak sebab mak tak pernah meninggalkan aku walau sesaat pun..
Terima kasih mak atas segalanya..
Terima kasih.....
P/S : Syurga d bawah telapak kaki ibu...untuk mendapat redha Allah.kna ar mendpat redha Ibu terlebih dahulu yaa.....insyaALLAH...semoga Allah akan sentiasa merahmati ibu kta semua....=)
Posted by
Unknown
comments (0)
Itulah sedekah yang paling mudah, tak perlu nak kena bayar pun.Senyum menjadi 1001 Penawar duka dikala kesedihan, tiada siapa tahu disebalik senyuman itu...
Ia menjadi rutin di setiap pagi, apabila matahari mula menampakkan dirinya dan ia tidak lupa untuk melakar senyuman manis dengan sinar cahayanya yang dapat memberi rahmat dan manfaat kepada seluruh alam ini. Subhanallah yang menciptakanNya.
Senyum itu anugerah.
Begitu juga dengan manusia, Allah SWT telah menganugerahkan senyuman, maka lakarkanlah senyuman selalu sebagai tanda bersyukur di atas anugerah itu. Hidup ini menjadi lebih indah dan berseri sekiranya kita tidak kedekut dan sentiasa melakar senyuman terutamanya kepada orang-orang tersayang dan dekat dengan kita iaitu ibu bapa, suami, isteri, anak-anak, jiran tetangga dan kawan-kawan.
Bayangkan hidup ini tanpa senyuman atau ketawa, adakah kehidupan ini menjadi indah?
Islam dan agama lain juga mengalakkan kita senyum. Sabda Rasulullah SAW : Senyum itu adalah sedekah. Hadis ini memberi motivasi kepada kita bahawasanya senyuman itu umpama kita bersedekah. Paling mudah dan senang untuk dilakukan. Tetapi tidak semua mengetahui apakah rahsia disebalik senyuman itu terutama dari segi kesihatan. Tak begitu ????
Bila ditanya apakah kelebihan dan istimewanya senyuman anda itu ? Ermm ada yang menjawab, ia boleh merapatkan dan mengeratkan hubungan silaturrahim sesama insan, menghilangkan stress dan sebagainya. Jawapan yang diberi itu memang betul, tetapi tahukah anda senyuman juga boleh menjadi penawar terbaik pada kesihatan terutama kepada jantung kita.
Senyum pasti akan menyerlah kejernihan dan keindahan semua pabila orang sekeliling memandang kearah kita. InsyaAllah…Senyuman itu juga kadang kala memberi satu kebaikan kepada setiap mata yang memandang.
Sekali senyum curiga hilang. Dua kali senyum jadi sahabat. Tiga kali senyum hati penuh damai. Empat kali senyum beban jadi ringan. Lima kali senyum rezeki datang. Enam kali senyum keluarga bahagia. Lebih dari tuh, sye tak tahu, fikir-fikir lah sendiri yaaa...!!!
Pepatah english ada beritahu…
Smile will certainly make others happy.
Smile will make your face turn brighter.
Smile will make your soul cleaner.
And smile will make you lovelier by end of the day
Haiwan pun senyum??
Yang pasti, jangan biarkan anak-anak ini, terus menangis. Senyuman mereka ini, menjadi penawar duka dikala kesusahan yang melanda. Ada manisnya. Selamat bersenyum anda semua...(n_n)
Posted by
Unknown
comments (0)
Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr
RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR & HAJR]
Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]
Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]
Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”
Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.
Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.
Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.
Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind, Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selemat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” [Lihat Kitab Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir (XIII/121)]
Komentar saya : “Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau”.
Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.
Beliau juga berkata pad hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.
[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]
Posted by
Unknown
comments (2)
Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah.
"Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu," demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal.
"Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum
aroma tubuhmu," kata Bilal masih dalam mimpinya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu.
Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi junjungannya.
Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu. Dan Bilal sama seperti mereka, diharu biru oleh kenangan dengan nabi tercinta.
Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib jika tiba waktunya. Padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal.
Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan.
Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. "Marhaban ya
Rasulullah," bisik salah seorang dari mereka.
Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat.
Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakam-kan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadarrasulullah."
Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.
Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk
adzan. "Adzanlah wahai Bilal," perintah Abu Bakar.
Dan Bilal menjawab perintah itu, "Jika engkau dulu membebaskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku."
"Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal," kata Abu Bakar.
"Maka biarkan aku memilih pilihanku," pinta Bilal.
"Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah," lanjut Bilal.
"Kalau demikian, terserah apa maumu," jawab Abu Bakar.
***
Di atas, adalah sepenggal kisah tentang Bilal bin Rabah, salah seorang sahabat dekat Rasulullah. Seperti yang kita tahu, Bilal adalah seorang keturunan Afrika, Habasyah tepatnya. Kini Habasyah biasa kita sebut dengan Ethiopia .
Seperti penampilan orang Afrika pada umumnya, hitam, tinggi dan besar, begitulah Bilal. Pada mulanya, ia adalah budak seorang bangsawan Makkah, Umayyah bin Khalaf. Meski Bilal adalah lelaki dengan kulit hitam pekat, namun hatinya, insya Allah bak kapas yang tak bernoda. Itulah sebabnya, ia sangat mudah menerima hidayah saat Rasulullah berdakwah.
Meski ia sangat mudah menerima hidayah, ternyata ia menjadi salah seorang dari sekian banyak sahabat Rasulullah yang berjuang mempertahankan hidayahnya. Antara hidup dan mati, begitu kira-kira gambaran perjuangan Bilal bin Rabab.
Keislamannya, suatu hari diketahui oleh sang majikan. Sebagai ganjarannya, Bilal di siksa dengan berbagai cara. Sampai datang padanya Abu Bakar yang membebaskannya dengan sejumlah Wang tebusan.
Bisa dikata, di antara para sahabat, Bilal bin Rabah termasuk orang yang pilih tanding dalam mempertahankan agamanya. Zurr bin Hubaisy, suatu ketika berkata, orang yang pertama kali menampak-kan keislamannya adalah Rasulullah. Kemudian setelah beliau, ada Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan keluarganya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.
Selain Allah tentunya, Rasulullah dilindungi oleh paman beliau. Dan Abu Bakar dilindungi pula oleh sukunya. Dalam posisi sosial, orang paling lemah saat itu adalah Bilal. Ia seorang perantauan, budak belian pula, tak ada yang membela. Bilal, hidup sebatang kara. Tapi itu tidak membuatnya merasa lemah atau tak berdaya. Bilal telah mengangkat Allah sebagai penolong dan walin-ya, itu lebih cukup dari segalanya.
Derita yang ditanggung Bilal bukan alang kepalang. Umayyah bin Khalaf, sang majikan, tak berhenti hanya dengan menyiksa Bilal saja. Setelah puas hatinya menyiksa Bilal, Umayyah pun menyerahkan Bilal pada pemuda-pemuda kafir berandalan. Diarak berkeliling kota dengan berbagai siksaan sepanjang jalan. Tapi dengan tegarnya, Bilal mengucap, "Ahad, ahad," puluhan kali dari bibirnya yang mengeluarkan darah.
Bilal bin Rabah, meski dalam strata sosial posisinya sangat lemah, tapi tidak di mata Allah. Ada satu riwayat yang membukti-kan betapa Allah memberikan kedudukan yang mulai di sisi-Nya.
Suatu hari Rasulullah memanggil Bilal untuk menghadap. Rasulullah ingin mengetahui langsung, amal kebajikan apa yang menjadikan Bilal mendahului berjalan masuk surga ketimbang Rasulullah.
"Wahai Bilal, aku mendengar gemerisik langkahmu di depanku di dalam surga. Setiap malam aku mendengar gemerisikmu."
Dengan wajah tersipu tapi tak bisa menyembunyikan raut bahagianya, Bilal menjawab pertanyaan Rasulullah. "Ya Rasulullah, setiap kali aku berhadats, aku langsung berwudhu
dan shalat sunnah dua rakaat."
"Ya, dengan itu kamu mendahului aku," kata Rasulullah membenarkan. Subhanallah, demikian tinggi derajat Bilal bin Rabah di sisi Allah. Meski demikian, hal itu tak menjadikan Bilal tinggi hati dan merasa lebih suci ketimbang yang lain. Dalam lubuk hati
kecilnya, Bilal masih menganggap, bahwa ia adalah budak belian dari Habasya , Ethiopia . Tak kurang dan tak lebih.
Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya. Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk
mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas
menara dan bergemalah suaranya.
sumber:
http://groups.yahoo.com/group/mymasjid/message/6142
















